Kamis, 26 Januari 2023

Mari Eliminasi Kebuntuan Berkreasi


 Bismillahirrohmanirrohim.

Puji syukur kepada yang Maha Ghofur  mengucur nikmat syukur bertabur. Sholawat dan salam kepada Sang Baginda elok bertutur berakhlak luhur  ...

Pertemuan ke-7 Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) gelombang 28 membahas "Mengatasi Writer's Block" dengan moderator Raliyanti, S.Sos, S. Kom, M.Pd. dan narasumber Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr.

Malam ini terasa sangat istimewa dengan hadirnya founder grup para penulis dan calon penulis terkemuka yang akan membuka dunia yaitu Dr. Wijaya Kusumah atau akrab disapa Omjay dengan kata-kata renyah pembuka ....

"Tak terasa kita sudah memasuki hari ketujuh. Siapa yang fokus pasti akan lulus.

Di dalam kesulitan itu pasti ada kemudahan. 

Membaca lah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi 

Banyak membaca akan membuat anda keliling dunia ..."

Moderator kali ini, Raliyanti, S. Sos, S.Kom, M.Pd. adalah seorang penulis yang telah menghasilkan banyak karya dan membuka pertemuan dengan kata berima penuh makna ...

 " Masih terasa euforia pertemuan sebelumnya

Tantangan menulis dari Prof. Eko yang menggoda

Semoga buku bisa terwujud nyata

Tanpa ada Writer's Block yang melanda

Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat wal'afiat, diberikan kemudahan dan dilancarkan urusan kita agar bisa menginspirasi dengan berbagi ilmu yang bermanfaat.

Marilah kita buka kegiatan malam ini dengan sejenak menundukkan kepala, bermunajat... agar ilmu yang didapat malam hari ini bermanfaat dan berkah utk kita semua ... "

Adapun agenda kegiatan malam ini:

1. Pembukaan

2. Paparan Materi

3. Tanya Jawab

4. Penutup

Narasumber kali ini adalah Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr., seorang guru muda berprestasi dan sangat menginspirasi, menghasilkan 6 buku solo dan 13 buku karya bersama.

Prestasi/Penghargaan yang pernah diraih :

Peraih Parasamya Susastra Nugraha (100 Guru Penulis Jawa Barat) - 2020

Peraih Parasamya Suratma Nugraha (Penggerak literasi) - 2020

Penghargaan dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kab. Subang sebagai donatur buku - 2020

Penghargaan Bupati Subang (2020) diusulkan Disdikbud Kab. Subang, diberikan saat HUT PGRI dan Korpri

Penghargaan Bupati Subang (2021) diusulkan Disarpus Kab. Subang, disampaikan saat HUT Subang ke-73

Penghargaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang (2021) untuk guru berprestasi disampaikan saat Hardiknas

Penghargaan Bupati Subang (2022)

Untuk profil lengkapnya ada di ๐Ÿ‘‡

https://dittawidyautami.blogspot.com/p/profil.html?m=1

Akun di Kompasiana dan Blogspot :

Kompasiana Ditta 

https://www.kompasiana.com/ditta13718

Blogspot Ditta

https://dittawidyautami.blogspot.com

Materi malam ini dibuka oleh narasumber dengan kalimat motivasi : Siapa pun yang ingin menjadi penulis andal, maka harus siap dengan prosesnya, tak bisa instan tentu, diperlukan jam terbang yang cukup banyak agar bisa menjadi seperti Omjay, Bunda Kanjeng, Pak Dail, Bunda Aam, Bu Rali, Mr. Bams, Prof. Eko, dan lainnya.

Kepiawaian narasumber dalam menulis diawali dengan senang membaca buku-buku cerita sejak kecil (sebelum SD), senang menulis sejak di sekolah dasar (dalam buku diary). Lalu saat SMP, sering mengirim tulisan ke mading sekolah dan pernah menulis cerita di buku tulis yang dibaca bergiliran oleh teman-teman. Atas arahan guru Bahasa Inggris juga menulis diary dalam bahasa Inggris dan sampai SMA masih tetap menulis diary  dengan banyak menuangkan luapan emosi remaja yang dinilai seperti novel oleh beberapa teman dekat  beliau.  "Menulis apa pun yang kita rasakan bisa menjadi self healing yang baik dan menulis sebagai salah satu cara mengatasi depresi ... " . Kebiasaan menulis memberi banyak manfaat ketika beliau kuliah saat membuat buku Petualangan Kimia dan diikutsertakan dalam Lomba Kreativitas Mahasiswa di Jurusan, alhamdulillah meraih posisi kedua. Dan juga saat menulis proposal berhasil mendapat dana hibah untuk asosiasi profesi dari Dikti hingga 40 juta di tahun 2009-2010 yang merupakan jumlah sangat besar saat itu.

Di awal masa pandemi, beliau mengikuti kelas menulis bersama PGRI dan masuk di angkatan ke-7 dan kembali aktif menulis di blog, juga berkesempatan menulis bersama Prof. Eko, menjadi 1 di antara 9 orang (angkatan pertama tantangan Prof. Eko) yang bukunya terbit di penerbit mayor. Alhamdulillah. Bisa menyelesaikan esai di seleksi Calon Pengajar Praktik Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 3 dan lulus lalu bertugas lagi di Angkatan 6.

Disadari atau tidak, menulis memiliki banyak manfaat. Ada yang menulis karena hobi, kebutuhan, tuntutan profesi, dan lain sebagainya. Apa pun alasannya, aktivitas menulis memang tak bisa lepas dari kita sebagai makhluk yang berbahasa dan berbudaya.

Aktivitas menulis itu maknanya luas, ada tulisan pribadi dalam bentuk diary, ada karya tulis ilmiah, ada cerpen, artikel, resume, dsb.

Menulis adalah kata kerja yang hasilnya bisa sangat beragam. Oleh karena itu tak hanya novelis, cerpenis, jurnalis atau blogger, namun ada juga copywriter yg tulisannya mengajak orang untuk membeli produk, ada content writer yang bertugas membuat tulisan profesional di website, ada script writer penulis naskah film/sinetron, ada ghost writer, techincal writer, hingga UX writer, dll. Faktanya, penulis-penulis tersebut masih bisa terserang virus WB alias Writer's Block. 

Tak peduli tua atau muda, profesional atau belum, WB bisa menyerang siapa pun yang masuk dalam dunia kepenulisan. Oleh karena itu, penting bagi seorang penulis untuk mengenali WB dan cara mengatasinya karena WB ini bisa menjangkit dalam hitungan detik, menit, hari, minggu, bulan, bahkan tahunan, tergantung seberapa cepat kita menyadari dan mengatasinya.

Sederhananya, WB adalah kondisi dimana kita mengalami kebuntuan menulis. Tak lagi produktif atau berkurang kemampuan menulisnya. Hal ini bisa terjadi dengan disadari atau pun tidak.

Istilah writer's block sebenarnya sudah ada sejak tahun 1940an. Diperkenalkan pertama kali oleh Edmund Bergler, seorang psikoanalis di Amerika.

Berkaca dari pengalaman, WB ini bisa terjadi berulang. Me-reinfeksi kita sebagai penulis. Itulah mengapa saya katakan WB ini sebagai "virus" yang sesekali bisa aktif bila kondisinya memungkinkan.

Ibarat penyakit, tentu akan lebih mudah disembuhkan bila kita mengetahui faktor penyebabnya, bukan?Begitu pula dengan WB. Agar bisa terhindar atau segera terlepas dari WB, maka kita perlu mengenali penyebabnya.

Berikut adalah beberapa hal yang dapat menjadi penyebab WB:

- Mencoba metode/topik baru dalam menulis sebenarnya bisa menjadi penyebab sekaligus obat untuk WB. Misal ketika jadi penyebab : ada orang yang senang menulis cerpen atau puisi kemudian tiba-tiba harus menulis KTI yang tentu saja memiliki struktur dan metode penulisan yang berbeda, bila tak lekas beradaptasi, bisa jadi kita malah terserang WB.

- Stress

- Lelah fisik/mental akibat aktivitas harian yang padat juga dapat memicu stress, pada akhirnya jangankan menulis, seorang penulis bisa merasa jenuh dan suntuk,  sehingga terserang WB

- Terlalu perfeksionis

Solusi Mengatasi Writer's Block :

- Mencoba hal baru dalam menulis

- Mempelajari hal-hal baru yang berbeda dg sebelumnya

- Memilih untuk sejenak rehat dan melakukan hal yang disukai untuk refreshing

- Membaca buku-buku ringan 

- Membaca yang menambah kosa kata sehingga bisa mengekspresikan ide dalam bentuk kata 

- Free writing atau menulis bebas yaitu kondisi menulis dimana kita tidak memikirkan salah eja, salah ketik, koherensi dsb, tidak terlalu memikirkan apakah tulisan saya sudah sesuai kaidah atau belum, tidak khawatir tulisannya tidak dibaca, tidak khawatir dinyinyiri orang, tidak khawatir dikritik ahli,  tidak khawatir tulisannya nggak bagus, dan lain sebagainya.

Yuk, dicoba menulis bebas untuk mengatasi salah satu penyebab WB-nya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘๐Ÿป

Bukankah tulisan yang buruk jauh lebih baik daripada tulisan yang tidak selesai?

So, ayooo semangattt menulisss ... ✍๐Ÿป✍๐Ÿป✍๐Ÿป

Pertanyaan dan jawaban

P1 (dari Nurhasnah) : Ibu aktivitas PP angk 3 dan 6 artinya ibu jd pp 2 kali.benarkah? Bukannya hanya satu kali di bolehkan. keren bgt, Bu. Dan apa tips ibu menulis  dalam bahasa inggris sementara jurusan ibu IPA. Thanks

Jwb : Betul, saya dan teman-teman di Subang ditugaskan dua kali. Hal ini sesuai surat edaran dari Kemdikbud yang intinya bila pernah menyelenggarakan PGP, maka PP diambil dari angkatan sebelumnya, jika kurang akan ditambah dg PP baru dg seleksi reguler. Terkait bahasa Inggris, saat SMP saya dan 3 sahabat lain ikut les privat Bun tapi gurunya berbeda dg guru B. Inggris yang meminta saya menulis diary berbahasa Inggris. Saya selalu ingat yg disampaikan oleh guru saya, bahwa belajar bahasa Inggris itu, tak bisa hanya bicara, perlu dilatih pula kemampuan mendengar dan menulis dalam bahasa Inggris.Yah, sebagaimana Tes TOEFL dan semacamnya. Kan tidak hanya kemampuan reading saja yang dites. Tips nya sederhana, just do it. Orang Inggris asli pun tidak selalu terpaku pada grammar. Nah kita menulis di chat pun kan tidak melulu menggunakan SPOK toh? ๐Ÿ˜ Mereka pun sama. Yang penting, kita ngomong/nulis mereka paham, dan mereka ngomong/nulis dan kita paham. That's it. Ini kata master bahasa Inggris saya. So, PD saja Bun ๐Ÿ˜‰ Kalau masih khawatir 'kan skg hidup sudah semakin mudah, bisa dibantu dicek oleh teman atau oleh Mbah Google.

P2  Mugiarni dari Kabupaten Tangerang :

1. Bagaimana cara memulai untuk memperkenalkan budaya digital pada anak SD.

2. Mengingat sekolah tempat saya mengajar bukan kategori lingkungan yang baik. Orang tua murid cenderung mengatur guru, sementara dg kondisi mereka yang berpengetahuan level bawah ?

Jawab :   

 https://www.kompasiana.com/amp/ditta13718/62f536faa51c6f7f06629172/literasi-digital-kemkominfo-bagian-1-literasi-dan-budaya-digital

Untuk menjawab pertanyaan pertama, artikel yang pernah saya buat mungkin bisa sedikit menambah wawasan kita terkait Budaya Digital. Tulisan tersebut saya buat setelah mengikuti mengikuti Literasi Digital Sektor Pemerintahan Daerah Jawa Barat Tahun 2022 (BPSDM) Batch 5 Bertema Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Pemberdayaan Kapasitas Teknologi Digital Kementerian Kominfo.

Selanjutnya bisa juga membaca Bagian Kedua tentang Etika Digital:

https://www.kompasiana.com/ditta13718/62f53edba51c6f0496200b63/literasi-digital-kemkominfo-bagian-2-etika-digital

Untuk yang nomor dua, saya jadi teringat dengan pengalaman salah satu Guru Penggerak di Angkatan 3. Beliau juga kurang lebih mengalami hal yang sama. Salah satu kuncinya ada di komunikasi. GP saya menemui tokoh dari kelompok yang anti terhadap sekolah. Tidak sekedar tatap muka di sekolah, GP saya bahkan datang langsung ke rumah beliau. Alhamdulillah hasilnya positif, malah tokoh tersebut jadi curhat terkait hal-hal yang membuatnya anti pada sekolah. Mungkin bisa dicoba juga Bun.

Sampaikan dengan niat yang baik dan tulus dari hati. Karena apa yang disampaikan dari hati, akan sampai ke hati pula ๐Ÿ˜Š Semoga bisa membantu (kalau nanti mau wapri juga boleh) ๐Ÿ™๐Ÿป

P3 Indah - Banjarnegara : Bagaimana cara mengatasi WB saat kita mengikuti 3 pelatihan sekaligus,, seperti yang saya alami saat ini, saya mengikuti pelatihan KBMN 28, tapi juga minat dengan tantangan Prof. Ekoji, dan juga program dari pak Dail...semuanya hanya membutuhkan waktu singkat, kadang kalo digunakan untuk membaca-baca seperti ada waktu yang hilang, mohon pencerahannya agar semuanya dapat terselesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan

Jawab : Setengah dari pertanyaan adalah jawaban. Saya yakin sebetulnya Bu Indah sudah tau jawaban cara mengatasi WB yang berkaitan dengan waktu. ๐Ÿ˜Š Kalau saya di posisi Ibu, saya akan membuat skala prioritas dan jadwal menulis. Insya Allah ketiga-tiganya akan bisa dijalani dengan baik asal kita istiqomah dengan jadwal yang telah kita tetapkan. Cari dan kenali waktu emas Bu Indah dalam menulis (karena tiap orang bisa berbeda). Apakah Bu Indah senang menulis di kala subuh? Sebelum tidur? Saat jeda istirahat? Menulislah di waktu terbaik tersebut ๐Ÿ˜Š

P4 Wahyuning dari Jakarta Pusat : Kalimat akhir yang menusuk di dada, tulisan buruh lebih baik dari pada tulisan yang tidak selesai. Nyesek dadaku Ibu guru hehe.....tapi boleh donk berikan tips dan trik dari Bu Dita yang cantik ini untuk saya agar bisa menyelesaikan satu persatu karya yang masih menjadi draft di laptop? terima kasih

Jawab : Tenang tenang, saya juga pernah kok membuat tulisan tulisan buruk. Tapi toh itu tetap berkesan ketika dibaca ulang ๐Ÿ˜Tips dari saya, coba buka kembali kemudian kelompokkan, siapa tau bisa jadi buku ๐Ÿ‘๐ŸปBuku solo pertama saya berjudul Lelaki di Ladang Tebu juga asalnya kumpulan draft cerpen di laptop. Kuatkan tekad, olah kembali. Kalau bisa sambil membuat daftar isi. Mulai dari akhir (bayangkan bukunya sudah jadi, bukan sekedar draft lagi). Dan tentu saja: mulai menulis. Mari kita ingat bersama bahwa menulis adalah kata kerja artinya harus dilakukan baru ia akan bermakna.

P5  R. Agung PS_ Jakarta : Saya sudah merasakan writer's block ketika tulisan saya sedikit yang membaca, muncul di sana keengganan untuk menulis lagi. Apakah yang harus saya lakukan ? Menulis dengan topik aktual tetapi kurang dikuasai, atau terus menulis tanpa menghiraukan jumlah pembaca?

Jawab : Pa Agung, saya juga pernah merasa di posisi Pa Agung. Sedih memang ketika sudah menulis dengan kesungguhan hati namun masih sedikit yang membaca. Tapi, kalau boleh saya tanyakan ... apa sebetulnya niat Pa Agung dalam menulis? Seingat saya Prof Eko juga menyarankan agar kita menulis sesuai dengan minat kita atau yang kita kuasai. Namun, jika niat P Agung memang menulis agar bisa dibaca banyak orang, banyak cara yang bisa ditempuh.Tetap konsisten menulis dan berbagi tulisan, atau ikut kelas menulis khusus untuk freelance seperti ghost writer, content writer, dll. Berbeda jika ternyata P Agung memiliki niat lain. Misal, untuk berbagi pengalaman. Maka, jangan jadikan jumlah pembaca sebagai patokan. Karena setiap penulis akan menemukan takdir pada para pembacanya. Yakin, bahwa setiap tulisan yang kita buat akan tetap bermanfaat walau hanya untuk satu orang. Bukankah, satu tulisan yang bermanfaat atau menginspirasi bagi satu orang, akan lebih baik daripada tulisan yang dibaca banyak orang tapi mudah dilupakan? Saya yakin, jika P Agung tetap menulis, kelak tulisan P Agung akan dibaca oleh banyak orang, sebanyak yang Pak Agung mau, insya Allah ๐Ÿ˜ŠSemangat, Pak 

P6 Rahman Sumenep : Bagaimana cara kita menghilangkan keragu-raguan saat menulis karena ide mandek di tengah jalan. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿป

Jawab :Yuk, menulis dengan teknik free writing alias menulis bebas.Saat mandek, coba tulis saja , "Sekarang ini saya sedang buntu menulis. Entah mengapa tiba-tiba mandek. Seperti sedang berlari sprint lantas menabrak tembok .... dst." Atau bisa juga, "Jujur, saat ini aku ragu, ragu jika tulisanku ini seindah pelangi seharum mawar, atau sebaik intan yang akan dipandang banyak orang. Banyak ketakutan yang muncul dalam benakku ... dst". Nah kan meski mandek, dengan teknik free writing insya Allah kabur virus WB (biarkan tangan menulis dan ide muncul belakangan, tak perlu bingung benar salah yang penting nulis).

P7 Maria Ulfa dari Lombok :

1. Apa kita jg bisa meraih mimpi seperti Ibu Ditta yang hebat, walau kami tidak se-getol Bu Ditta?

2. Apa yang paling penting dipersiapkan utk menjadi seorang penulis. Terima kasih

Jawab :  1. Pasti bisa dooong ๐Ÿ˜Ž yakin.     2. Mental seorang penulis.

Jika berkenan, silakan simak video yang saya buat tentang mental seorang penulis ya Bun :

https://youtu.be/UkRDLmA4dUY

P8 Umatun Nur Islamiyati peserta KBMN 28 dari Kemenag kab Magelang Jateng, saya penulis awam dan masih awal, semangat menulis karena kagum kpd Bunda Lilis Sutikno.

Pertanyaan: Bagaimana trik trik biar bisa menulis yang bermutu. Saya mulai menulis sudah setua ini umur saya yaitu 50 tahun  lebih tapi saya semangat

Jawab : Kisah Bunda Lilis dan Bunda Kanjeng cocok jadi inspirasi nih untuk kasus Bunda. Untuk tipsnya "practice makes perfect" dan perbanyak membaca terkait dengan apa yang akan kita tulis. 

Misal jika Bunda senang menulis puisi, maka mari membaca karya karya sastrawan terkemuka.

Bila senang cerpen, mari perbanyak baca cerpen yang berhasil dimuat di media massa atau karya cerpenis populer.

Membacanya harus seperti kacang goreng. Dinikmati, diresapi kata-katanya, kenali diksi yang digunakan, dsb. Bukankah makan kacang goreng lebih nikmat bila perlahan, bukan sekaligus ๐Ÿ˜

Lain halnya jika ingin menulis karya ilmiah, ya mesti mau membaca jurnal. 

Saya pernah baca tulisan Prof. Ngainun, jika ingin menulis jurnal, setidaknya kita harus membaca beberapa volume dari jurnal yang kita targetkan. Pokoknya tetap semangat ya Bun. Usia bukan halangan bagi seseorang untuk bisa menjadi penulis andal ๐Ÿฅฐ

P9 Wigung dari Gunung Kidul Yogyakarta : Apakah WB termasuk penyakit ,Bu?

Jawab : Ehehe itu istilah saya saja ๐Ÿ˜ karena berdasarkan pengalaman bisa datang berulang kali. Misal yg saya alami, saya pernah terkena WB karena lelah fisik. Di waktu lain, saya terkena WB karena terlalu perfeksionis. Saya katakan "penyakit" karena memang jika dibiarkan, dampaknya bisa fatal. Tak produktif lagi.

P10 Etik Nurinto, S.Pd.SD. dari Pemalang : Apa yang menurut Bu Ditta paling sulit saat menulis dan bagaimana mengatasinya ?๐Ÿ™๐Ÿป

Jawab : Hmm, pertanyaan sulit. Yang paling sulit saat menulis menurut saya adalah percaya dengan tulisan sendiri. Terkadang kita baru percaya tulisan kita baik, ketika ada orang yang berkomentar baik. Kita terlalu khawatir dengan penilaian orang lain, padahal sejatinya tak pernah ada manusia yang sempurna. Buku buku best seller pun ada edisi revisinya, kan? Cara mengatasinya dengan mengingat niat awal kita menulis, mengingat kembali masa masa di mana kita menikmati proses menulis itu sendiri dan tak lupa berdoa

Seperti malam ini, sebelum menulis di grup ini, saya juga meminta doa pada kedua orang tua saya ๐Ÿ˜Š

Alhamdulillah sampailah kita di penghujung waktu kegiatan malam ini.

 The closing statement :

"It doesn't matter how brilliant is your brain. If u do not speak up, it would be zero."

Mari, tuangkan dan sampaikan ide ide kita, pemikiran pemikiran kita, perasaan perasaan kita agar menjadi lebih bermakna.

"Rahasia untuk maju adalah memulai. Rahasia untuk memulai adalah memecah tugas-tugas rumit  yang luar biasa menjadi tugas-tugas kecil yang dapat dikelola, dan kemudian memulai dari yang pertama."

Alhamdulillahirobbil'alamiin ...

(  Rosjida Ambawani, Resume Pertemuan ke-7 Kelas Belajar Menulis Nusantara - KBMN - Gelombang 28, "Mari Eliminasi Kebuntuan Berkreasi" ... hari terus berganti bertanya diri apakah semua ilmu yang menginspirasi akankah tinggal catatan sepi ataukah akan ditindaklanjuti gapai prestasi ... )



Tidak ada komentar:

Posting Komentar