Selasa, 26 Juni 2012

Mengalah Bukan Berarti Kalah ...

MENGALAH BUKAN BERARTI KALAH ...

Setiap manusia tercipta dengan segenap keegoisannya. Ingin menang dan tak mau kalah. Ingin mengatur tapi tak mau diatur. Jika setiap insan menuruti keegoisannya masing-masing, kehidupan ini seketika akan hancur.

Kesamaan dan perbedaan pendapat tehadap sesuatu hal dapat membuat antar individu menjadi rukun atau "meledak ". Meledak dan membara tersebut merupakan luapan emosi yang memberikan dampak negatif, sehingga perlu ada yang mengalah ketika terjadi perbedaan pendapat. Namun, mengalah bukanlah hal yang mudah, karena biasanya manusia mengaitkan hal tersebut dengan harga dirinya.

Berhadapan dengan individu yang mudah "meledak", salah satu cara adalah berusaha untuk membuang rasa kesal, bersikap tenang dan jernih, lalu memberikan penjelasan dengan ringkas, tepat dan jelas. Sikap tenang tanpa emosi yang merupakan sikap "mengalah" harus dicoba dan dilakukan. Ini adalah sikap mulia dan menunjukkan pribadi yang dewasa, tidak mengumbar amarah dan mendapatkan kedamaian.

Pepatah Jawa mengatakan " wani ngalah luhur wekasane "
Barangsiapa berani mengalah, maka pada akhirnya ia akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan.

Falsafah ini begitu melekat dalam masyarakat Jawa, terutama generasi tua mereka. Mungkin karena ia hari-hari didendangkan sebagai tembang mijil di segala tempat; sawah, sungai, hutan-hutan, pendapa, serambi rumah, bahkan ketika mendorong si kecil yang sedang tumbuh dalam ayunan kayu di atas rerumputan hijau samping rumah. Dengarkan bait-bait tembang itu:

Dedalane guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah luhur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
Ana catur mungkur

Kemuliaan diri itu bisa diraih jika memiliki kesalehan yang tinggi, mau mengalah untuk sesuatu yang lebih mulia, bersikap merunduk bagai padi, tidak suka dipuji, dan menjaga diri dari hal yang tidak berguna.

Mengalah bukan berarti kalah atau terkalahkan. Mengalah justru sebuah sikap yang penuh kedewasaan: melihat sesuatu jauh ke depan, melihat sesuatu bukan pada lahiriahnya saja. Mengalah adalah sikap seorang yang telah matang dalam mengarungi samudera kesulitan, kenyang akan asam-garam dan pahit-getir kehidupan. Ia seorang yang futuristik. Mengalah boleh jadi memang mundur selangkah, tetapi setelah itu maju menghentak dan melesat jauh ke depan.

( NapakTilas, Sebuah renungan, 25 Juni 2012 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar