Kamis, 12 Januari 2023

Mari Kita Lejitkan Passion Kita dengan Rasa Cinta


 Bismillah.

Alhamdulillah, puji syukur kepada yang Dzat yang Maha Kasih terlampau kasih, Maha Penyayang yang sungguh menyayang. Sholawat dan salam kepada junjungan, insan mulia panutan semua insan.

Hari ini, malam ini adalah malam kedua kita bersua, bersama para penulis yang membawa semangat di dada untuk meraih cita-cita mulia. Engkau boleh mengatakan ini baru pertemuan kedua dari tiga puluh pertemuan yang dicanangkan. Bagiku, ini sudah langkah kedua yang aku ayunkan untuk mencapai tangga ke-30 di depan ...

Semangat kawan, mari kita perdalam kemampuan kita membuat tulisan. Tak kenal lelah, lillah dengan niat ibadah.

Pertemuan kedua ini bertema "Menjadikan Menulis sebagai Passion", dibuka oleh moderator Widya Setianingsih, S.Ag. yang akrab disapa Mbak Widya Arema (Arek Malang, kota kelahiran saya) dengan quotes yang membuka mata, "Orang-orang sukses hanyalah mereka yang memiliki kebiasaan sukses" (Brian Tracy).

Pernahkan sahabat sekalian melakukan sesuatu hal dengan rasa senang? Melakukan sesuatu hal dengan rasa cinta? Itulah Passion. Passion atau renjana merupakan kecenderungan yang kuat terhadap suatu aktivitas yang digemari oleh seseorang. Hari ini kita akan menumbuhkan passion kita dalam menulis. 

Pemateri kali ini adalah seorang ibu  dengan sosok keibuan, ucapannya lembut bak air yang mengisi kekosongan jiwa.. tarian penanya lincah tak pandang usia, menebar tetesan renjana bagi setiap insan untuk berkarya, dialah ibu bagi literasi bangsa, sang Ratu antologi yang tak pernah lelah memberi makna dalam tiap titian usia, Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. yang akrab disapa bunda Kanjeng.

Lewat untaian kata-kata Mbak Widya yang indah bermakna terus mengalir membawa jiwa tak lekang semangat untuk (memulai) berkarya walau kesibukan melanda ....

Setiap kita adalah karya indah...                                                                                                         
Setiap kita adalah buku sejarah...                                                                                                
Tergantung kita akan menutup atau membuka sejarah.                                                               
Membuka, dan  menarikan setiap deretan huruf kenangan.                                                  
Menggoreskan kisah sejarah dalam keabadiaan. Dikenang dalam peradaban.                            
Ataukah... Mengunci rapat buku itu. Dan hanya kita yang tahu.                                             
Tertinggal.... Terlewat... Terkubur tanpa kenangan. Dan terlupakan tanpa perayaan.                       
Hanya kita bisa yang menentukan. 
Jadikan kisah kita abadi dalam ingatan sejarah.                                
Sekarang atau tergerus roda kesibukan. 

Pertemuan diawali dengan kesatuan hati dan rasa untuk semangat berkarya, dilanjutkan dengan doa untuk kelancaran dan kemudahan acara. Harapan dari Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd atau bunda Kanjeng bahwa peserta di angka 1000 itu luar biasa, yang menjadi tantangan bagaimana agar semua peserta bisa naik kelas yaitu menulis, hal ini menjadi PR dari Tim Solid OmJay (Dokjay) dalam membersamai  grup ini. Semua alumni/lulusan Kelas Belajar memiliki potensi  yang luar biasa dan harus dilejitkan khususnya di dunia literasi

Passion atau renjana adalah satu gairah yang dimiliki semua orang. Bagaimana kita menjaga passion dan menyalurkannya menjadi sesuatu yang selalu ingin dan ingin lagi, sehingga tidak pernah padam. Begitu juga dengan proses menulis. Ketika kita sudah menjadikan sebagai renjana, maka giat menulis tidak akan padam karena sudah menjadi kebutuhan bukan beban. Dengan menulis langsung plong. Poin pentingnya, mampukah kita menjadikan menulis itu satu kebutuhan atau food suplemen yang akan membawa kita menjadi orang yang mulia.

 Mengapa kita menulis karena dapat mengedukasi pembaca untuk berliterasi, menghasilkan uang untuk traveling, diundang ke istana maupun keliling Indonesia.

Melalui penyajian powerpoint yang menarik padat berisi, Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd memaparkan dalam " Writing is My Passion"

Profil beliau adalah lulusan S1 di FKIP Bahasa Inggris UNS & S2 di UMS, seorang guru pegiat literasi nusantara, editor sejak tahun 2019, motivator, dan blogger, telah menulis 21 buku dan mendapat penghargaan/apresiasi sebagai Ratu Antologi

Paparan Bunda Kanjeng yang singkat padat antara lain :

Mengapa menulis menjadi passion yang menjanjikan karena kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir dan hingga hari ini profesi penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial.

Kendala dan hambatan dalam menulis adalah  merasa tidak bakat menulis, tidak memiliki waktu mauoun ide, tidak mau dikritik, dan tidak suka menulis. 

Motivasi menulis adalah Hadis Nabi Muhammad saw yang mengatakan 
“khoirunnas anfa’uhum linnas” yang artinya sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia lain 💖

Langkah-langkah menjadi penulis yang baik yaitu


Persiapan dalam menulis adalah 
1. Menggali dan Menemukan Gagasan/Ide 
    Kegiatan ini bisa dilakukan melalui pengamatan baik terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi, imajinasi, dan kajian pustaka. Untuk mempermudah proses penemuan ide, cara efektif yang dapat digunakan adalah melalui brainstorming.

2. Menentukan Tujuan, Genre, dan Segmen Pembaca
Sasaran pembaca akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan warna tulisan. 
Selain itu, kita harus memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan akan marketable

3. Menentukan Topik
Penentuan topik dilakukan setelah penulis menetapkan untuk apa menulis, genre yg dipilih, dan siapa sasaran pembacanya.

4. Membuat Outline 
Outline merupakan bentuk kerangka tulisan yang menunjukkan gambaran materi yang akan ditulis, yang cukup ditulis garis besarnya saja. Karakteristik outline yang baik memiliki kesederajatan yang logis, kesetaraan struktur, kepaduan, dan penekanan. 

5. Mengumpulkan Bahan Materi / Buku
Penulis wajib membaca banyak buku dan sumber bacaan lain untuk memperkaya perspektif dan referensi agar semakin banyak ide atau gagasan yang dapat dikembangkan.

Langkah selanjutnya yaitu perlunya editing, revising, publishing.
Editing yaitu membaca ulang dan menyempurnakan draft.
Revising yaitu mengubah, melengkapi, mengecek kembali naskah untuk menihilkan kesalahan tulis.
Publishing yaitu pengiriman naskah, pracetak (perwajahan buku, tata letak, ISBN, proof reading),  pencetakan, promosi, dan distribusi

Menulis itu harus sabar .... Penulis pemula sebaiknya lebih fokus pada ketekunan (persistence) dalam proses menulis. Menulis semampunya terlebih dahulu, jangan berfikir harus sempurna, dan jangan terlalu idealis.

💧💧💧 Benar, sebagai pemula seperti diri ini harus meniti satu-persatu tangga kepenulisan dengan hati dan sabar diri, tak henti belajar dan berusaha membekali diri dengan berbagai ilmu luas yang tak bertepi .....

( Rosjida Ambawani, Resume pertemuan ke-2 Kelas Belajar Menulis Nusantara - KBMN - Gelombang 28, dari kota kecil di ujung selatan Jawa Barat ...)


 













Senin, 09 Januari 2023

Mari Menulis Setiap Hari dengan Hati Hal yang Disukai dan Dikuasai


                    Mari Menulis Setiap Hari dengan Hati, Hal yang Disukai dan Dikuasai 
 
Assalamualaikum para pembaca budiman. 

Ini adalah jumpa pertama kita, pertemuan pertama di Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) gelombang 28 dengan 1000 lebih peserta. Seribu, ya seribu, banyak dan penuh semangat. 
Pertemuan pertama dari 30 pertemuan. Layaknya jumpa pertama, masih bertanya-tanya, mampukah kita memulai semuanya, menjadi penulis yang mampu menerbitkan buku. 

Pematerinya sungguh hebat, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., OmJay, seorang teacher, trainer, writer, motivator, blogger, praktisi ICT,  dll Sering diundang di berbagai Seminar, Simposium, dan Workshop sebagai Pembicara/Narasumber di tingkat Nasional. Dirinya telah berkeliling hampir penjuru nusantara, karena menulis, banyak mendapat penghargaan sehingga diundang ke istana dari orang nomor satu di Indonesia. Beliau seorang Doktor, iya lulusan S3, mendapatkan gelar doktor pendidikan tahun 2022 dengan judul desertasi "Pengelolaan Blog Kolaboratif untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Siswa" 

Beliau memulai semua keberhasilan dengan komitmen tinggi diawali dari blog pribadi yang dengan musibah kebakaran sekolah menjadikan "Yuk Kita Ngeblog'' mendapatkan juara pertama dari Depdikbud dengan hadiah 20 juta !!


Sungguh menarik paparan beliau :
1. Mulailah menulis dari apa yang kita sukai dan kuasai  
2. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi
3. Menulis dengan hati akan mengena di hati  
4. Rahasia bisa menulis setiap hari adalah membaca tulisan orang lain.
5. Kebanyakan orang tidak bisa menulis karena malas membaca tulisan orang lain atau merasa tulisannya yang paling hebat padahal di atas langit ada langit. 
6. Praktikkan ilmu menulis setiap hari dan bersedia belajar hal-hal yang baru
7. Bila anda rabun membaca, maka anda akan lumpuh menulis
8. Menulis itu akan mudah kalau langsung dilihat dan dialami serta didengarkan secara langsung sehingga kisah nyata lebih disukai banyak orang daripada kisah fantasi
9. Menulis setiap hari akan berbuah prestasi ketika anda menulis dengan hati
10. Teliti dahulu sebelum memposting
11. Dengan tulisan akan mendapatkan cuan.
      Seperti yang telah beliau dapatkan dari kompasiana



Satu jam penyampaian materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yabg dipandu oleh moderator Bpk Dail Maruf, M.Pd. Pertanyaan bertubi-tubi dijawab OmJay dengan jawaban singkat dan lugas. Intinya manfaatkan hp untuk menulis di saat waktu padat, manfaatkan blog untuk menulis ide tulisan yang nantinya bisa diedit, lawanlah rasa malas menulis dengan mengingat hal positif yang akan kita dapatkan minimal karya untuk anak cucu kelak, banyak tema tulisan bisa diramu seperti makanan gado-gado, agar tulisan banyak diminati dan dibaca maka tulislah isu terkini.

Sungguh menarik, memberi semangat dan membuka lebar mata kita akan banyak langkah untuk menjadikan kita berhasil dalam menulis.
Hayu kita banyak membaca, memperkaya diri dengan membaca tulisan orang lain, menulis berawal dari menyapa dan terdiri  dari 3 alinea, lawan rasa malas, dan menulis setiap hari itu harus ikhlas, hanya memberi tak harap kembali .....

( Rosjida Ambawani, Pertemuan I KBMN 28, tanggal 9 Jan 2023, dari kota kecil di Jawa Barat )

Kamis, 22 Juli 2021

Selamat Jalan Ibuku Tercinta ...

Dua puluh satu Juli 2021 
Saat jarum jam berdentang tiga kali 
Dini hari alam sepi bumi sunyi
Yang Mahakasih telah memanggil
Telah tertulis di suratan takdir
Bersama lafadz Allah yang terlantun di bibir
Khusyu berdzikir

Ya Ilahi Robbi
Ya Robbul Izzaty
Telah terpanggil seorang ibu
Penyejuk kalbu
Pelantun doa di setiap malam panjang-Mu
Penguat jiwa belahan hidup
Penuntun hati di setiap waktu

Selamat jalan ibuku 
Air mata mengalir tak putus-putus
Mengenang kesabaranmu
Kebaikanmu
Nasihatmu
Teladanmu

Kan kulalui hari-hari hidup ini
Dengan petuahmu yang terpatri
Ya Robbi aku bersaksi
Atas keteguhan sebuah hati ...


Jumat, 19 Juni 2020

Selamat Jalan, Adikku Tercinta

Selamat Jalan Adikku Tercinta ...

Bulir-bulir air mata bertaburan
Isak tangis tak tertahan
Saat mentari bersinar perlahan
Pagi itu 11 Juni engkau tlah kembali ke haribaan
Sang Maha Kasih yang tlah menakdirkan ...

Masih terbayang senyummu, tawamu, tawa kita, senda gurau kita
Tentang hidup yang kadang penuh warna
Dan dunia yang ternyata tidak sederhana
Ada merah, hitam, biru dan rupa-rupa
Biduk mengarungi lautan tanpa jeda
Kadang langkah tertatih dan terdera

Aku masih ingat masa kecil kita
Dengan baju senada tersenyum ceria
Kata orang wajah kita serupa
Padahal senyum dan sabarmu lebih dalam bermakna

Maafkan aku dengan kesibukanku
Yang tak segera bisa menanda
Isyarat akan kepergian selamanya

Aku berusaha menepis tanda tanpa suara dari rona dan cahaya mata
Darimu yang sebenarnya tlah menyiratkan

Mungkin Yang Maha Kuasa menyayangi jiwa
yang penyayang penyabar rela dengan yang tergariskan

Karyamu, jejakmu sungguh indah dan tak kan lekang oleh masa
Suaramu candamu senantiasa terngiang

Selamat jalan
Selamat tinggal
Tenanglah di keabadian
Doa senantiasa terpanjatkan
Selalu di segenap hati dan jiwa
Yang mengenang kebaikan, kerelaan dan pengorbanan

( 11 Juni 2020, beserta limpahan doa)

Minggu, 18 Juni 2017

BUKA PUASA SAMBIL MENANGIS ...

Suatu ketika Imam Malik pernah menangis ketika hendak berbuka puasa.

Muridnya bertanya, “Kenapa Tuan menangis?”

Imam Malik menjawab, “Aku sedih melihat makanan yang banyak ini Karena teringat dengan Rasulullah. Baginda Rasulullah berbuka dengan makanan yang sedikit tetapi ibadahnya banyak. Sedangkan aku berbuka puasa dengan makanan yang banyak tetapi ibadahku sedikit”.

-selesai-

Hasbiyallah wa Ni'mal Wakiil....

Sabtu, 20 Mei 2017

SESUNGGUHNYA ...

Percayailah seseorang ...
Yang mampu merasakan kesedihanmu di balik senyumanmu
Yang mampu mengerti pikiranmu di saat engkau terdiam
Yang mampu merasakan kasih sayangmu di saat kemarahanmu
Karena dialah yang bisa mengerti tentang dirimu
> Terkadang engkau harus berlari jauh...
Agar engkau tahu siapa yang akan datang kepadamu
> Terkadang engkau harus berbicara pelan...
Agar engkau tahu siapa yang masih mau mendengarkanmu
> Terkadang engkau harus mencoba mengambil keputusan yang kurang tepat...
Agar engkau tahu siapa yang akan menunjukkanmu pada keputusan yang benar
> Terkadang engkau harus melepaskan orang yang sangat engkau cintai...
Agar engkau tahu apakah dia akan kembali setia di sisimu
Sesungguhnya...
Ketika kita pergi bersembunyi hanyalah untuk ditemukan
Ketika kita berjalan jauh hanyalah untuk melihat siapa yang masih setia mengikuti
Ketika kita menangis agar kita tahu siapa yang dengan ikhlas menghapus air mata kita ...
( AEU, 19.12.12 )

Sabtu, 01 April 2017

MENIKAH : Seni Mengalah ...


Beberapa pekan jelang menikah, saya yang kala itu masih berusia 22 tahun, meguru pada ibu. Apa yang perlu dilakukan agar pernikahan berjalan damai?
Ibu menjawab tanpa berpikir panjang. Seolah pertanyaan yang saya ajukan se sepele resep sayur lodeh.
“Nikah ki yo anggere wani ngalah..” (Nikah itu pokoknya berani mengalah)
Dua kata yang menggedor batin saya: BERANI dan MENGALAH
Kata BERANI biasanya disandingkan dengan hal yang berat, bahkan horor. “Berani mati” misalnya. Tapi ibu menyandingkan kata itu dengan MENGALAH. Saya mulai memahaminya sebagai tugas berat, yang tidak semua orang mau dan mampu menjalankannya.
Mengalah
Dan ini yang pada akhirnya saya jumpai, lalu saya pelajari dari lelaki yang sejak 18 tahun lalu saya dapati memiliki kepribadian baik.
Saat pernikahan masih serba kekurangan, dia akan lebih dulu mengambil piring plastik agar saya bisa menggunakan piring beling.
Saat anak belum lulus toilet training, dia yang akan bangun di tengah malam untuk menatur si kecil, padahal yang anak panggil saat itu adalah ibunya.
Saat makan di luar, dia akan makan dengan terburu-buru agar bisa cepat bergantian menggendong si kecil. Demi kuah bakso di mangkok saya tidak keburu dingin.
Saat mendapati satu bacaan yang menarik, dan saya tertarik, dia akan mengangsurkan bacaan itu. “Bacalah lebih dulu. Aku sudah selesai”
Saat memasak dan jumlah masakan itu terbatas. Bukan saya yang menyisihkan untuk bagiannya, tapi dia yang akan mengambilkan lebih dulu untuk saya, dalam jumlah yang lebih banyak darinya. “Aku sudah kenyang..” dan saya tahu itu bohong.
Saat ada sepotong roti, dia akan membaginya tidak sama besar. Tapi saya yang lebih besar. “Kamu kan menyusui. Butuh lebih banyak kalori..” dan kami akan berdebat panjang, lalu diakhiri dengan saya tidak akan memakan bagian yang besar itu sampai dia tarik kembali agar beratnya sepadan.
Saat saya akan memakai kamar mandi belakang (yang ukurannya lebih kecil dari kamar mandi depan) dia yang sedang berada di kamar mandi depan segera keluar dan meminta saya menempatinya. “Aku di belakang aja. Nanti kamu kaget kalau banyak kecoa..”
Saat saya marah, meski kemarahan itu tidak masuk akal, dia yang mendekat, mengangsurkan tangan dan meminta maaf. Padahal masalah sebenarnya pun belum terang ia cerna.
Ini akhlak. Ini ngalah. Dan ini cinta
Entah bagaimana caranya dia tidak bosan mengalah, dan tidak pula berdendang “Mengapa s’lalu aku yang mengalah..”
Enteng saja dia menjalani itu. Ikhlas saja. Senang-senang saja. Tapi dampaknya sangat besar buat saya.
Apa itu? Penghormatan, penghargaan, dan respek.
Untuk segi kematangan emosional, saya tertatih-tatih di belakangnya. Marah dan mau menang sendiri, selalu menjadi bagian saya.
Tapi sikap ngalah yang dia tunjukkan, lambat laun jadi mematangkan emosi itu. Sekaligus membuat saya juga jadi ingin mengalah. Ngalah untuk tidak memancing sikap ngalahnya, yang saya rasa sudah berlebihan dia beri pada saya.
Ya..ya.. pernikahan memang selaiknya menjadi hubungan yang take and give. Saling memberi saling menerima. Saling menutupi dan memahami.
Tentu jika hanya satu pihak saja yang terus mengalah, dan pihak yang lain memanfaatkan sikap ngalah itu, kedamaian hanya jadi angan. Karena pasti ada bom waktu di balik sikap ngalah itu.
Namun mengalah adalah seni untuk memenangkan hati pasangan. Dan pasangan yang baik (baca: tahu diri) pasti akan menyambut sikap ngalah ini dengan suka cita, kesyukuran, lalu menghargai usaha dari pasangannya.
Mungkin ini yang membuat ibu menjawab “ngalah” sebagai kunci kedamaian berumah tangga.
***
Dan kini saya pun bertanya padanya, si lelaki pengalah itu. “Mengapa kamu selalu mengalah padaku?”
Jawabannya sederhana saja. Se-sederhana resep sayur lodeh:
“Aku tidak pernah merasa ngalah. Yang aku lakukan hanyalah menjaga agar kita tidak pernah terpecah belah ...”
Untukmu yang berani mengalah ...
( Wulan Darmanto )