Kamis, 29 Januari 2026

Kenangan Suatu Pagi di Depan Stasiun Malang Kota

Pagi itu gerimis 

Saat kereta Malabar memasuki

stasiun kota baru 

Sudah lama berlalu

aku baru menginjakkan kaki di sini


Kau muncul di pintu keluar penumpang

Mengajakku berjalan, hayu kita makan

Sayangnya tempat makan di ujung selatan stasiun

masih belum buka


Kita pun naik angkot

Menuju tempat berkumpul kawan-kawan

Kuingat kau menegur anak SD yang dengan tenangnya

Membakar kertas ...


Langit terus gerimis

Lalu kita berbincang berempat

dan mencicipi lumpia

Sore pun beranjak

dan kita saling mengucap salam


Pernah pada suatu malam aku bermimpi

Kita menghirup udara segar


Aku ingat Juli 2011

Kita tlah memulai

memposting karya-karya 

puisi kita

perjalanan waktu yang panjang

jejak karya menemani berbagai peristiwa

dari kota dingin hingga merambah pulau seberang

masa demi masa

jejak demi jejak


Pada akhirnya Dinding Kita 

blog yang kita rawat dan jaga

tempat bercengkrama karya-karya kita

terus menemani perjalanan asa


Aku masih tetap memajang gambar kupu-kupu

dengan sayap indah keperakan

menghisap bunga aneka warna


Hingga pada akhirnya

rentang masa tanpa bicara

tlah menjauhkan kita

menjadikan sebentuk prasangka

dan Dinding Kita benar-benar mendindingi kita

menghapus mimpi dan kenangan kita


(Kota dingin, in memoriam 10 September 2025)

Jumat, 04 Juli 2025

JANGAN MENANGIS LAGI ...

Sudah berpuluh purnama perahumu berjalan

Sudah berpuluh badai kau temui

Sudah berpuluh angin kencang menerjang

Sudah berpuluh rasa sakit mengapit

Lelahmu

Sedihmu

Air matamu


Takdir tak selalu setiap masa bertemu purnama

setiap waktu berjumpa cahya

Kadang ada luka

Ada ombak meruak


Dan langkah harus terus ke depan

walau duka menerpa

Janganlah menangis lagi

Sudah cukup air mata membanjir

Diantara lapang dada dan ikhlas jiwa

Kuatkan hati

Yakin Dia tak 'kan menzalimi ...


(Kota kecil, 4 Juli 2025)


Sabtu, 28 Juni 2025

DI PUSARAMU

Di pusaramu aku bersimpuh

Wangi melati menyeruak membelah kenangan

Kuusap namamu yang terukir di batu nisan 

Seperti usapanmu di kepalaku saat kecil

dan suara baritonmu


Terakhir kali aku kesini

Berdua bersama ibu terkasih

Rumput membasah

Bunga melati di sisi nisanmu putih mekar

Lamat-lamat ku ingat Ibu mengucap

Ayahmu suka melati 

sambil gurat sepuh tangannya

memegang nisan dan berdoa lirih


Lalu kita berjalan

diantara tanah makam yang becek

pohon beringin tua dingin menyapa

dalam hati aku sempat berucap

kapan lagi aku dapat berkunjung

jarak Jabar-Jatim tidaklah dekat

dan waktu teramat singkat


(Kota dingin, Mei  2021)





Minggu, 15 Juni 2025

Mengapa

Kehadiranmu adalah anugerah

Saat ufuk binarkan cahaya

Berbalur doa di ujung penantian

Karunia Sang Maha segalanya


Waktu bergulir hadir

berbagai cerita datang dan berakhir

banggaku juangmu doa tulusku

diantara rinai dan terik

kilau dan perih


Mengapa kini permata berserak

tak tahukah lengan ini mengoyak

menghasung mimpimu menegak terjarak

tangis keringat melesak


Mengapa kita tak kembali

pada masa segala tak berpunya

tapi jiwa bermakna tak lekang masa

berjalan beriringan membelah hujan

berpeluk kuat kala kemarau menyengat

sudah terlalu lama sehingga kita

tak mampu lagi merekat asa


(Renungan, kota sunyi, 15 Juni 2025)


 

TAKDIRMU, TAKDIRKU, TAKDIR KITA

Mari kita terus melangkah

Tinggalkan masa lalu yang lelah

Tiga puluh masa bukanlah waktu yang sebentar

Walau angan kita belum kunjung berbinar


Sehelai daun pun sudah ditakdirkan jatuh

Betapa pun ikatan ini adalah ketetapan-Nya

Tak akan ada tanpa kehendak-Nya

 

Lihatlah rambut-rambut perak kita

Tengoklah kerut menghias wajah kita

Sudah bukan lagi kita raja

Berkehendak ini itu penuh sabda


Saatnya kita bercengkrama

Mulai menata

Mumpung matahari masih bersua

Tentang hidup kita yang tak lagi lama

Berjalin genggam yang kini kecoklatan

Saling tersenyum tanpa ada tangis

Esok masih milih kita

Walau kita akan tertatih


Masih ingatkah tanganmu menari

diantara bilah bonang barung bonang penerus

Atau liuk badanmu melesatkan tripple poin

di ring basket malam-malam

lalu kita makan bakso yang dingin

bulan cerah menyapa 

diantara keringat dan tawa


Atau saat kita berdesakan

naik bis kota ke Tunjungan

makan nasi sebungkus berdua dengan riang

tanpa risau esok apakah masih bisa

saku kering sedikit rupiah tersisa


Yakinlah kita

yang terbaik tlah digariskan

walau tentu penuh lika liku luka

mari kita berjalin tangan

takdirmu, takdirku, takdir kita ..


(Kenangan di kota Pahlawan, Oktober 1994)


Sabtu, 24 Mei 2025

HARUSKAH KU TETAP DI SINI

Haruskah ku tetap di sini

memeluk yang terpuruk

membelai yang terkulai

menopang yang tertimpang


Berulang ku teriakkan

pondasi ini tak lama lagi rubuh

perlahan jatuh

tergelincir terbentur


Masa lalu gemilang

tak lama lagi tinggal cerita

tanpa sadarnya kau masih terus jumawa

tertawa bangga diantara lorong hampa


Bangun dan bangkitlah

buka mata dan melangkahlah

sayang hatimu pekat kabut

halangi nur jernih menjemput


( Suatu pagi gerimis, Kota kecil, 24 Mei 2025)





Kamis, 19 Desember 2024

Tak Seperti Mentari

Tak seperti mentari
Yang senantiasa berseri
Memancarkan cahaya pagi
Kepada segenap penghuni bumi
Dan aku sungguh tak bisa
Tersenyum manis diantara duka
Di setiap hari senantiasa
Walau embun berusaha menyapa

Terkadang hati terperangah
Akan hilangnya sapa renyah
Tempat berpegang pandu arah
Hingga toreh jiwa jadi resah

Oh tiga puluh masa ternyata
Belum mampu jalinkan makna
Dan aku terus menapakkan renjana
Pada dinding sepi menggurat asa

(Suatu pagi, 19 Des 2024)