Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Maret 2017

CINTA DALAM DIAM ...


Ayah di dalam kamar, beberapa kali batuk²  ...

"Cinta ayahmu kepadamu luar biasa, tetapi lebih banyak disimpan dalam hati karena kau perempuan", kata ibu.
Aku mendengarkan ibu dengan heran.

"Ketika kau melanjutkan kuliah ke Jakarta dan aku bersama ayahmu mengantarmu ke stasiun, kau dan aku saling berpelukan.
Ayahmu hanya memandang. Dia bilang juga ingin memelukmu, tapi sebagai laki² tak lazim memeluk anak perempuan di depan banyak orang, maka dia hanya menjabat tanganmu, lalu berdiri sampai kereta itu menghilang", kata ibu.

"Ibu memang sering menelponmu.
Tahukah kau, itu selalu ayahmu yg menyuruh dan mengingatkan.

Mengapa bukan ayahmu sendiri yg menelpon?
Dia bilang, "Suaraku tak selembut suaramu, anak kita harus menerima yg terbaik".

"Ketika kamu diwisuda, kami duduk di belakang.
Ketika kau ke panggung dan kuncir di togamu dipindahkan rektor, ayahmu mengajak ibu berdiri agar dapat melihatmu lebih jelas.
"Alangkah cantiknya anak kita ya bu," kata ayahmu sambil menyeka air matanya.

Mendengar cerita ibu di ruang tamu, dadaku sesak, mungkin karena haru atau rasa bersalah.

Jujur saja selama ini kepada ibu aku lebih dekat dan perhatianku lebih besar. Sekarang tergambar kembali kasih sayang ayah kepadaku. Aku teringat ketika naik kelas 2 SMP aku minta dibelikan tas. Ibu bilang ayah belum punya uang.

Tetapi sore itu ayah pulang membawa tas yg kuminta.
Ibu heran. "Tidak jadi ke dokter?" tanya ibu. "Kapan² saja.
Nanti minum jahe hangat, batuk akan hilang sendiri"
Kata ayah.

Rupanya biaya ke dokter, uangnya untuk membeli tasku, membeli kegembiraan hatiku, dengan mengorbankan kesehatannya.

"Dulu setelah prosesi akad nikahmu selesai, ayahmu bergegas masuk kamar.
Kau tahu apa yg dilakukan?" tanya ibu.

Aku menggeleng. "Ayahmu sujud syukur sambil berdoa untukmu.
Air matanya membasahi sajadah.

Dia mohon agar Allah melimpahkan kebahagiaan dalam hidupmu.
Sekiranya kau dilimpahi kenikmatan, dia mohon tidak membuatmu lupa zikir kepada-Nya.

Sekiranya diberi cobaan, mohon cobaan itu adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas hidupmu.

Lama sekali dia sujud sambil terisak.
Ibu mengingatkan banyak tamu menunggu.
Dia lalu keluar dengan senyuman tanpa ada bekas air di pelupuk matanya".

Mendengar semua itu, air mataku tak tertahan lagi, tumpah membasahi pipi.

Dari kamar terdengar ayah batuk lagi.
Aku bergegas menemui ayah sambil membersihkan air mata.

"Kau habis menangis?"
Ayah menatapku melihat sisa air di mataku.
"Oh, tidak ayah!" aku tertawa renyah.
Ku pijit betisnya lalu pundaknya.
"Pijitanmu enak sekali seperti ibumu", katanya sambil tersenyum.

Aku tahu, meski sakit, ayah tetap ingin menyenangkan hatiku dengan pujian.

Itulah pertama kali aku memijit ayah.
Aku melihat betapa gembira wajah ayah. Aku terharu.

"Besok suamiku menyusulku, ambil cuti seminggu seperti aku.
Nanti sore ayah kuantar ke dokter", kataku. Ayah menolak. "Ini hanya batuk ringan, nanti akan sembuh sendiri".

"Harus ke dokter, aku pulang memang ingin membawa ayah ke dokter, mohon jangan tolak keinginanku", kataku berbohong.

Ayah terdiam. Sebenarnya aku pulang hanya ingin berlibur, bukan ke dokter.

Tapi aku berbohong agar ayah mau kubawa ke dokter.
Aku bawa ayah ke dokter spesialis.

Ayah protes lagi, dia minta dokter umum yg lebih murah. Aku hanya tersenyum.

Hasil pemeriksaan ayah harus masuk rumah sakit hari itu juga.
Aku bawa ke rumah sakit terbaik di kotaku.

Ibu bertanya setengah protes. "Dari mana biayanya?".
Aku tersenyum.
"Aku yg menanggung seluruhnya bu.
Sejak muda ayah sudah bekerja keras mencari uang untukku.

Kini saatnya aku mencari uang untuk ayah.
Aku bisa! Aku bisa bu!".

Kepada dokter aku berbisik; "Tolong lakukan yg terbaik untuk ayahku dok, jangan pertimbangkan biaya", kataku. Dokter tersenyum.

Ketika ayah sudah di rumah dan aku pamit pulang, aku tidak menyalami, tetapi merangkul dengan erat untuk membayar keinginannya di stasiun dulu.
"Seringlah ayah menelponku, jangan hanya ibu", kataku.
Ibu mengedipkan mata sambil tersenyum.

Dalam perjalanan pulang, aku berfikir, berapa banyak anak yg tidak paham dengan ayahnya sendiri seperti aku.

Selama ini aku tidak paham betapa besar cinta ayah kepadaku.

Hari² berikutnya aku selalu berdoa :
"Rabbighfir lii wa li waalidayya warhamhuma kama rabbayaani shagiira".

Namun kini dengan perasaan berbeda.
Terbayang ketika ayah bersujud pada hari pernikahanku sampai sajadahnya basah dengan air matanya.

NB : Moga menjadi contoh bagi para anak, betapa besar nya cinta kasih seorang ayah Tidaklah jauh berbeda dgn cinta kasih seorang ibu

Sabtu, 25 Maret 2017

Di Balik Jejak Kehidupan ...

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.

"Yah, beras sudah habis loh..." ujar isterinya.
Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah,

"Ayah..., besok Agus harus bayar uang praktek".
"Iya..." jawab sang Ayah.

Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.
Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam,

"besok beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah" sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar,
"jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya".
Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, "ini, anak siapa minta susunya ke siapa".
Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah.
Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, "Iya, nanti semua Ayah bereskan" meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.

Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut namun yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam.
Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Ayah ini meyakini bahwa Allah tidak akan menguji seorang hamba kecuali sebatas hamba tersebut mampu memikulnya, dan Ia selalu berprasangka baik kepada Allah dengan meyakini bahwa tiada cobaan yang tidak berakhir dan Jalan keluar selalu akan datang kepada hamba-hamba yang hanya bersandar pada pertolongan dan kasih sayangNYA semata.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya.
Semoga.

Sebuah Renungan ...

*Animals Schooling*

(untuk direnungkan orang tua dan guru ...)

Di sebuah Hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para  binatang.

Statusnya "disamakan" dengan sekolah manusia.

Kurikulum sekolah tersebut mewajibkan setiap siswa lulus semua pelajaran dan mendapatkan ijazah.

Terdapat 5 mata pelajaran dlm sekolah tsb.
a. Terbang
b. Berenang
C. Memanjat
d. Berlari
E. Menyelam

Banyak siswa yang bersekolah di "animals schooling", ada elang, tupai, bebek, rusa dan katak.

Terlihat diawal masuk sekolah, masing2 siswa memiiki keunggulan pada mata pelajaran tertentu.

Elang, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yg berada diatas kemampuan binatang lain.

Demikian juga katak, sangat mahir pd pelajaran menyelam.

Namun, beberapa waktu kemudian krn "animals schooling" mewajibkan semua harus lulus 5 Mapel.

Maka mulailah si Elang belajar memanjat dan berlari.

Tupai pun berkali-kali jatuh dari dahan yg tinggi krn belajar terbang.

Bebek seringkali ditertawakan meski sdh bisa berlari dan sedikit terbang. Namun sdh mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.

Semua siswa berusaha dg susah payah namun belum jg menunjukkan hasil yg lebih baik.

Tidak ada siswa yg menguasai 5 mapel tsb dengan sempurna.

Kini, kelamaan.
Tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat berenag dg baik krn sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek, krn terlalu sering belajar memanjat.

Kondisi inilah yang saat ini terjadi mirip dengan kondisi pendidikan kita.
Orangtua berharap anaknya serba bisa.
Sangat stress ketika matematikanya dapat nilai 5.

Les A, Kursus B, Les C, kursus D, private E dsb dan berjibun kegiatan lain tanpa memperhatikan dan fokus dipotensi anaknya masing masing

Mari kita syukuri karunia  luar biasa yg sdh Allah amanahkan kpd kita para orangtua yg memiliki anak2 yg sehat dan Lucu.

Setiap anak memiliki belahan otak dominannya masing2,

Ada yg dominan di Limbik kiri, neokortek kiri, limbik kanan, neokortek kanan, juga batang otak.

Sehingga masing2 memiliki kelebihannya masing2...

Fokuslah dengan kelebihan itu, kawal, stimulasi dan senantiasa fasilitasi agar terus berkembang.

Janganlah kita disibukkan dengan kekurangannya.

Karena sesungguhnya setiap anak yg terlahir didunia ini adalah cerdas (dikelebihannya msg2), istimewa dan mereka adalah Bintang yang bersninar diantara kegelapan Malam.

Inilah saatnya kita bergandeng tangan  menggali potensi diri anak & anak didik kita seoptimal mungkin.

Selamat berjuang mengetuk pintu langit di sepertiga malam Ayah & Bunda. Semoga الله mudahkan segala urusan kita mengiringi kesuksesan ananda kelak di dunia & di akhirat... Aaamiin

Kamis, 01 Mei 2014

Keabadian dalam Kehidupan ...

 KEABADIAN DALAM KEHIDUPAN ...

"Aku membayangkan jiwaku berada di surga. 
Menikmati keindahan, kedamaian 
dan kebahagiaan abadi di dalamnya
merasakan kelezatan aneka buah-buahan,
meminum segar dan jernih air sungainya,
ditemani para bidadari yang mempesona ...

Aku juga membayangkan jiwaku berada di neraka,
meminum airnya yang menggelegak panas,
merasakan belenggunya,
membayangkan besi panas menghunjam sampai ubun-ubun
siksaan yang tak berkesudahan ...

Lalu aku merenung dan berkata pada diriku sendiri ,
'Wahai diri, manakah yang engkau inginkan?'
Diriku berkata,'Aku ingin dikembalikan ke dunia
dan beramal shalih'.
Aku katakan,'Engkau memiliki harapan,
persiapkan dirimu pada masa keabadian
pilihan ada di hadapan ..."

( Renungan yang tiba-tiba hadir, 9 Okt 2012 )

Kamis, 25 April 2013

PUTERIKU, GADISKU ...



PUTERIKU, GADISKU ...

Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua.

Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.

Dan waktupun berlalu...

Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.

Tapi,...

Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.

Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami.

Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.

Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.

Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.

Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.

Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.

Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri.

Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.

( Renungan untuk para suami ... )

http://indahnyamutiaraqolbu.blogspot.com/2012/04/kuserahkan-putiku-padamu-renungan-untuk.html

Senin, 11 Februari 2013

Cinta yang Mengagumkan ...


Cinta yang Mengagumkan ...

“Cinta datang dari banyak pintu ...
Sebagian besar dari kita datangnya lewat pintu mata,
atau pintu telinga ...
Sebagian lagi menggunakan pintu hatinya ...”

“Cinta tidak membutuhkan mata untuk melihatnya
sama sekali tidak.”

Ada cinta yang kita sama sekali tidak membutuhkan mata.
Kita tidak perlu melihat wajahnya, kita tidak perlu melihat betapa tampan, tinggi, atau gagah perawakannya.
Kita juga tidak membutuhkan telinga untuk mencintai seseorang. Kita tidak perlu mendengar suaranya yang empuk menenangkan, tidak perlu mendengar secara langsung betapa bijak dan santun tutur katanya, dan betapa benar semua perkataannya.
Kita tetap bisa mencintainya dengan amat sangat.

Inilah jenis cinta yang amat mengagumkan ...

Duhai, yang maha menggenggam seluruh perasaan,
yang maha menyaksikan banyak hal,
itulah jenis cinta kepada Rasul Allah.
Kita sungguh tidak pernah melihat sehelai foto beliau.
Kita bahkan tidak pernah menatap sedetik gambar beliau. Bagaimana rupawannya beliau. Bagaimana eloknya beliau.
Tapi kita tetap mencintainya.
Terisak saat menyadari besarnya cinta itu.

Inilah jenis cinta yang amat mengagumkan ...

Maka ijinkanlah kami, menunjukkan rasa cinta itu secara benar. Bukan cuma gombal, basa-basa saja.
Ijinkanlah kami menambah ilmu, meneladani semua wasiatnya, lantas menegakkan semua teladannya.
Rasul kami amat penyayang dan penyantun, maka kami ingin juga demikian. Rasul kami mewariskan begitu banyak contoh akhlak terpuji, maka kami jugaingin dan akan  demikian.
Dan, Rasul kami amat sederhana hidupnya, maka kami ingin dan akan meneladaninya.

( Rindu kami padamu ya Rosul, Tere Liye, 11.02.2013)

Selasa, 23 Oktober 2012

Menjadi Matahari ...

MENJADI MATAHARI ...

Ketika wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia
Pria berkata ingin menjadi matahari ...
Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari,
bukan kupu kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga ...



Ketika wanita berkata ingin menjadi rembulan
Pria berkata ingin tetap menjadi matahari ...
Wanita berkata matahari dan bulan tidak bisa bertemu,
tetapi pria ingin tetap jadi matahari....

Ketika wanita berkata ingin menjadi punai
yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari,
tapi pria berkata ia akan selalu menjadi matahari ...

Wanita tersenyum pahit dan kecewa ...
Wanita sudah merubah keinginannya tiga kali
namun pria tetap keras kepala ingin jadi matahari,
tanpa mau ikut berubah bersama wanita
Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali
tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari....

Pria merenung sendiri dan menatap matahari ...

Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari
agar bunga dapat terus hidup
Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga
agar ia tumbuh, berkembang
dan terus hidup sebagai bunga yang cantik ...
Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh
dan pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga
Ini disebut Kasih..... yaitu memberi tanpa pamrih.

Saat wanita jadi bulan,
pria tetap menjadi matahari ...
agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi ...
Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari,
tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan,
siapakah yang ingat kepada matahari ... ?
Matahari rela memberikan cahayanya untuk bulan
walaupun ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan
dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaannya
sebagai pemberi cahaya
agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut
Ini disebut dengan Pengorbanan...

Saat wanita jadi punai yang dapat terbang tinggi,
jauh ke langit bahkan di atas matahari
Pria tetap selalu jadi matahari ...
agar punai bebas mengepakkan sayap
dan matahari bersinar menerangi dunia
memberi udara cerah dan sinar bagi keleluasaan sayapnya
untuk bisa terbang tinggi kemana ia suka
dan matahari snantiasa setia menemaninya
Ini disebut dengan Kesetiaan.....

Jadi, pria tetap dan selalu ingin jadi matahari
yang memancarkan cahaya tanpa pamrih
setia dan selalu ada ...

Untuk para wanita.....
Siapakah Matahari yang ada di dalam kehidupanmu??
Bila engkau sudah menemukan Matahari dalam kehidupanmu
sambut, genggam ldan jangan pernah kau lepaskan ...

( Muhasabah Cinta, 23 Okt 2012 )

Kamis, 13 September 2012

Makna Ulang Tahun dalam Kehidupan ...

Makna Ulang Tahun dalam Kehidupan ...

Kalo kita coba renungkan, sebenarnya apa sih makna yang terkandung dalam hari ulang tahun itu?

1. Bertambahnya pengalaman hidup 

Pastinya dengan semakin bertambahnya usia kita, semakin bertambah pula pengalaman hidup kita. Pengalaman yang akan menjadi modal yang berharga untuk kehidupan di masa depan.

2. Berkurangnya jatah hidup di dunia

Setiap manusia memiliki jatah umur masing-masing yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. semakin bertambah usia kita, berarti semakin dekat kita dengan kematian.

3. Momen untuk bersyukur

Ideal-nya sih setiap hari bahkan setiap saat kita bersyukur. Namun kadang kita sering lupa kepada-Nya. Oleh karena itu, jadikanlah hari lahir ini sebagai momen untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah Dia berikan.

4.Momen untuk muhasabah dan refleksi diri

Merenungi tentang semua yang telah kita perbuat di masa yang lalu dan berusaha untuk memperbaikinya di masa depan.

5.Momen untuk merefresh proposal hidup

Menata dan memantapkan kembali rencana hidup di masa depan, mempersiapkan diri dan memotivasi diri menjadi pribadi yang lebih baik ...

( Dari berbagai sumber ... Barokalloh 4 u , 10 Sept 2012 )

Hikmah Anggota Tubuh dalam Hidup dan Kehidupan ...

HIKMAH ANGGOTA TUBUH DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN ...

Kitaa lahir dengan 2 mata, 2 telinga dan 1 mulut. Kedua mata ada di depan wajah, kedua telinga ada di kanan kiri. Ada juga otak yang tersimpan rapat dalam tengkorak kepala. Tak ketinggalan

ada 1 mulut ...

Kita lahir dengan 2 mata di depan wajah, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita lahir dengan 2 telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi, masukan positip dan negatif, untuk berupaya mengumpulkan pujian dan kritikan dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita, sehingga tidak peduli semiskin mana pun kita, kita tetap kaya, karena tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, fikiran kita dan idea kita. Dan apa yang anda fikirkan dalam otak anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.

Kita lahir dengan diberi hanya 1 buah mulut, karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya, agar hidup ini bisa dijalani dengan selamat dan bahagia ...

( Renungan Kehidupan, 13 Sept 2012 )

Jumat, 07 September 2012

BERBAGI DALAM KEHIDUPAN ...

Berbagi dalam Kehidupan ...

Hidup terus berlangsung melintasi hari. Waktu terus berganti. Usia bertambah pasti. Menuju satu titik yang tiada seorang pun dapat mengelak diri. 

( Sudahkah kita sedikit berbagi, untuk orang-orang di sekitar
 diri. Alangkah indahnya jika setiap orang rela berbagi, walau sedikit jika ikhlas akan meng-kaya-kan hati ... )

Saya punya sahabat. Saya memanggilnya “kang Hasan”.
Orangnya bersahaja. Ia punya “kebiasaan” yang menurut saya sangat langka. Kalau membeli sesuatu dari pedagang "kecil”, ia tidak pernah mau menawar, bahkan seringkali jika ada uang kembalian, ia tidak mau menerima dan selalu diberikan kepada pedagangnya.

Pernah suatu saat kami naik mobilnya, mampir di suatu SPBU.
Kang Hasan berkata kepada Petugas SPBU: Tolong diisi Rp 95 ribu sj ya. Sang petugas merasa heran. Iapun balik bertanya : Knp tdk sekalian Rp 100 ribu saja Pak ?
Gak apa2 , isi saja dgn Rp 95 rb, balas kang Hasan.
Selesai diisi bensin, Kang Hasan memberikan uang Rp 100 rb. Sang petugas pun memberikan uang kembali Rp 5 ribu.
Kang Hasan berkata : Gak usah, ambil saja kembaliannya.
Sang petugas SPBU seperti tdk percaya. Ia pun berucap : Alhamdulillah, terima kasih, Pak. Seandainya semua orang seperti Bapak ... ".
( Begitu juga apa yang dilakukan kang Hasan kepada penjual koran,
pedagang asongan .... )
Saya tertegun dgn apa yang dilakukan kang Hasan tersebut.

Didlm perjalanan, sy bertanya kpd sahabat saya tersebut : “Sering melakukan hal seperti itu ? "

Kang Hasan menjawab, "Diantara harta kita ada hak orang2 yang membutuhkan, anak yatim .... Mencoba melakukan hal2 kecil yg bisa kita lakukan disekeliling kita, yg penting istiqomah (konsisten).
Kita tdk akan jatuh miskin dengan sedikit berbagi kepada orang lain. Walau uang yang sedikit itupun tdk akan membuat mrk kaya tapi yang jelas akan membuat hatinya bahagia "

( Bukankah Rasulullah bersabda :
من أفضل العمل إدخال السرور على المؤمن تقضي عنه دينا تقضي له حاجة تنفس له كربة
Diantara amal sholeh yg paling afdhol adalah : Memberikan RASA BAHAGIA ke dlm hati orang2 yg beriman, Membantu MEMBAYARKAN HUTANGNYA, Memenuhi Keperluan orang lain, dan MENGHILANGKAN KESUSAHANNYA. [Shahih, Dari Ibnu Al Mukandar - HR. Ibnu Hibban (Kitab Shahih Al Jami’ Ash Shoghir – Hadits No. 589) )


( Sebuah Renungan Kehidupan, dikutip dari berbagai sumber, 7 Sept 2012 )

Selasa, 28 Agustus 2012

SEANDAINYA KAIN PUTIH ITU BISA BICARA ....

SEANDAINYA KAIN PUTIH ITU BISA BICARA ....

Hari ini ada ribuan gulung kain, diperjual-belikan di pasar-pasar di kota ini. Hari ini ada sedemikian banyak kain putih, yang sedang dibeli, diukur dan dipotong. Hari ini ada sedemikian banyak kain putih yang siap digunakan sebagai kain kafan. Hari ini ada sedemikian banyak kain kafan yang seolah bertanya untuk siapa ia akan dibeli.


Esok hari, siapa gerangan pembeli berikutnya. Bisa jadi kain putih itu akan dibeli orang yang tidak kita kenal, Bisa jadi kain putih itu kita sendiri yang membelinya untuk tetangga atau keluarga terdekat kita. Bisa jadi seseorang sedang membelikannya untuk jenazah kita yang sedang menunggu dikubur.


Engkau boleh saja tertawa, tapi bisa jadi kain kafanmu ada di truk pengirim barang yang sedang diparkir di pinggir toko kain itu. Engkau boleh saja berencana, tapi bisa jadi kain kafanmu sedang dipesan si pemilik toko. Engkau boleh saja tidur nyenyak, tapi bisa jadi seorang penenun sedang memintal kain kafanmu. Engkau boleh saja menikmati keindahan alam pertanian, tapi boleh jadi seorang petani sedang memanen kapas bahan kain kafanmu.

Kita tidak tahu kapan hidup kita berakhir. Kita juga tidak tahu kain kafan mana yang akan menemani kita. Tapi yang jelas kain putih kita ada di suatu tempat.

Kain putih itu sendiri tidak pernah tahu kepada siapa ia akan digunakan. 
Seandainya kain putih itu bisa bicara ....

Senin, 27 Agustus 2012

Kita adalah Tamu di Dunia ...

KITA HANYALAH TAMU DI DUNIA & HARTA ADALAH PINJAMAN ...

Sejak lahir dan sampai saat ini
berpuluh tahun kita menapak usia
mengenyam keindahan dan kenikmatan dunia
Ingatlah ...

kita hanyalah tamu di dunia
maka kehadiran kita hanyalah sementara

Kaya atau miskin kita hanyalah sementara
Segala kejayaan atau kegagalan hanyalah sekian masa
Jabatan, kedudukan, popularitas & kemuliaan tidak selamanya
Tidak ada presiden atau raja selama-lamanya
Tidak ada direktur atau manager yang melepas jabatan pada akhirnya
Semua harta benda, emas permata, rumah & kendaraan kita hanyalah pinjaman
walaupun semua aset adalah hasil jerih payah keringat kita,
walaupun kita mempunyai surat kepemilikan yg sah & semua harta benda atas nama kita secara hukum
Namun semuanya hanyalah kepemilikan sementara,
Hanyalah pinjaman ...

Semua yg ada di badan kita,
yang terkalung di leher, terselip di jari, yang dikenakan di pergelangan tangan, yang tersimpan di saku, semua harus dikembalikan sama seperti ketika kita belum memilikinya!

"Ketika lahir dua tangan kita kosong, ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong..."

Waktu datang ke dunia kita tidak membawa apa-apa,
Waktu pergi meninggalkan dunia kita juga tidak membawa apa pun

Jangan sombong karena kaya & berkedudukan,
Jangan minder karena miskin dan hina,
Bukankah kita semua hanyalah tamu & semua milik kita hanyalah pinjaman...

TETAPLAH RENDAH HATI seberapapun tinggi kedudukan kita...

TETAPLAH PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita...

dan TETAPLAH BERSYUKUR
dalam segala keadaan...

Begitu waktu-Nya tiba, tamu harus pulang ke asalnya dan semua pinjaman harus dikembalikan ...

( Renungan kembali ttg Kehidupan, "Me & My lovely friends", 27 Agt 2012 )

Jumat, 03 Agustus 2012

Kejernihan dalam Kehidupan ...

KEJERNIHAN DALAM KEHIDUPAN ...

(Betapa kehidupan ini harus dipandang lewat pandangan yang jernih sejernih air pegunungan yang mengalir bening dan sejuk .. )

Sepasang pengantin baru menempati rumah di sebuah komplek perumahan.

Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca melihat tetangganya sedang menjemur pakaian ...
"Cuciannya kelihatan kurang bersih ya", kata sang istri.
"Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar.
Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus."

Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tdk memberi komentar apapun.

Sejak hari itu setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberi komentar yg sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya.

Seminggu berlalu ...
Sang istri heran melihat pakaian2 yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya:
"Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar.
Siapa ya kira2 yang sudah mengajarinya? "

Sang suami berkata,
"Saya bangun pagi2 sekali hari ini dan
membersihkan jendela kaca kita ..."

Dan begitulah kehidupan ....
Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran (jendela) lewat mana kita
memandangnya..

- Jika hati bersih,
maka bersih pula pikiran..

- Jika pikiran bersih,
maka bersih pula perkataan..

- Jika perkataan bersih (baik),
maka bersih (baik) pula perbuatan ...

Hati, pikiran dan perkataan kita mncerminkan hidup kita..

(Sebuah Renungan Kehidupan, "Orang-Orang Sukses", 1 Agt 2012)

Minggu, 08 Juli 2012

Memaafkan dalam Kehidupan ...



MEMAAFKAN DALAM KEHIDUPAN ...

Memaafkan memang tidak mudah, namun pasti akan membawa kepada jalan kebahagiaan ...

Kita mungkin pernah terluka oleh sesuatu yang dilakukan orang lain terhadap kita di masa lalu. Mungkin kita tidak ingat alasannya. Namun, kita ingat rasa sakit yang dialami sangat jelas dan membawa dendam ke mana pun kita pergi. Dendam mempengaruhi kualitas hubungan terhadap yang lain dan sikap kita terhadap kehidupan.

Orang yang telah menyakiti kita mungkin tidak menyadari apa yang terjadi. Namun hanya bila berkubang dalam emosi ini tentu akan mempengaruhi kesehatan. Dukunglah diri sendiri dan biarkan rasa itu pergi.
Let Go. Lepaskan dan jalani kehidupan seperti apa adanya.

Bagaimana cara memaafkan diri sendiri?

1.Menerima situasi
Apa yang terjadi di masa lalu tidak dapat dikembalikan. Jadi, terimalah kenyataan. Tidak ada yang sempurna, semua orang pernah membuat kesalahan.

2.Lanjutkan
Memaafkan tidak berarti melupakan apa yang terjadi. Ini hanya berarti kita tidak akan lagi menciptakan emosi yang sama yang kita rasakan, berulang dalam pikiran. Belajarlah dari situasi itu dan lanjutkan hidup.

3.Tetap jauh dari sikap negatif
Kata-kata yang sangat kuat. Tidak ada dan tidak pernah menanam dalam memori kita, kalimat seperti “Saya tidak akan pernah bisa berbicara dengan orang itu” atau “Saya tidak akan pernah melupakan apa yang ia lakukan kepada saya”, dll. Itu semua harus dihindari.

4.Cari tahu satu titik positif dalam setiap situasi, dan coba mengingatnya.

5.Tuliskan ke bawah dan hancurkan.
Tuliskan semua hal yang kita pikir telah melakukan kesalahan atau bagaimana orang lain telah bersalah pada kita. Menulis akan membantu menjelaskan dalam pikiran kita. Setelah lakukan itu, bacalah dan buang itu ke tempat sampah. Cara ini akan membantu kita dalam mendapakan masalah yang belum terselesaikan dari kepala kita.

6.Berhenti menilai diri sendiri.
Miliki kekuatan dan keberanian untuk membiarkan diri menjadi mempan. Jadilah baik dan penuh kasih pada diri sendiri. Pilih untuk mengampuni diri sendiri dan kemudian bergerak maju serta melepaskan masa lalu.
Jika kita berpikir ada orang lain yang bersalah kepada kita, coba dekati orang itu, berbicaralah padanya dan minta maaf. Dengan cara ini, kita meredakan diri sendiri dari penyiksaan batin karena berpikir terus tentang hal ini.

Satu atau dua kejadian di masa lalu mungkin tidak berpengaruh pada kehidupan kita saat ini.
Hidup terus berjalan. Lebih baik untuk menjaga kesehatan diri.

Untuk itu, belajarlah memaafkan diri sendiri dan orang lain...

( Intisari, Secuil Renungan, 8 Juli 2012 )

Selasa, 26 Juni 2012

Saya Menangis ...

" Saya menangis karena tidak punya sepatu, lalu saya bertemu dengan seorang laki-laki yang tidak punya kaki ... "

( Mari mensyukuri apa yang ada, ternyata masih banyak orang lain yang lebih tidak berpunya ...)

Jauhi Prasangka dalam Kehidupan ...

JAUHI PRASANGKA DALAM KEHIDUPAN ...

Dalam kehidupan, serng muncul prasangka dalam diri kita terhadap orang lain. 
Prasangka itu bagaikan sepatu yang nyaman dipakai namun tak digunakan untuk berjalan. Ia memberi jawaban sebelum kita mengetahui pertanyaannya. Dan, seburuk-buruknya jawaban adalah bila kita tak paham akan masalahnya.

Bila kita telah mampu melepaskan prasangka, kita akan menemukan pandangan yang lebih jernih, keberanian untuk mengatasi masalah dan jalan yang lebih benar.

Andaikan kita mengenakan kacamata, maka yang melihat tetaplah mata, bukan kacamata. Dan keadaan yang sebenarnya terjadi adalah apa yang berada dibalik kacamata. Bukan yang terpantul pada cermin kacamata. Demikian pula halnya dengan diri kita, yang sesungguhnya yang melihat adalah diri hati kita melalui mata.

Prasangka itu adalah debu-debu pikiran yang mengaburkan pandangan hati sehingga kita tak mampu melihat dengan baik. Mari kita bersihkan hati dari prasangka sebagaimana kita menyingkirkan debu dari kacamata agar dapat melihat sesuatu dengan jelas, jernih dan bening ...

( Catatan-Catatan Kecil, 26 Juni 2012 )

Mengalah Bukan Berarti Kalah ...

MENGALAH BUKAN BERARTI KALAH ...

Setiap manusia tercipta dengan segenap keegoisannya. Ingin menang dan tak mau kalah. Ingin mengatur tapi tak mau diatur. Jika setiap insan menuruti keegoisannya masing-masing, kehidupan ini seketika akan hancur.

Kesamaan dan perbedaan pendapat tehadap sesuatu hal dapat membuat antar individu menjadi rukun atau "meledak ". Meledak dan membara tersebut merupakan luapan emosi yang memberikan dampak negatif, sehingga perlu ada yang mengalah ketika terjadi perbedaan pendapat. Namun, mengalah bukanlah hal yang mudah, karena biasanya manusia mengaitkan hal tersebut dengan harga dirinya.

Berhadapan dengan individu yang mudah "meledak", salah satu cara adalah berusaha untuk membuang rasa kesal, bersikap tenang dan jernih, lalu memberikan penjelasan dengan ringkas, tepat dan jelas. Sikap tenang tanpa emosi yang merupakan sikap "mengalah" harus dicoba dan dilakukan. Ini adalah sikap mulia dan menunjukkan pribadi yang dewasa, tidak mengumbar amarah dan mendapatkan kedamaian.

Pepatah Jawa mengatakan " wani ngalah luhur wekasane "
Barangsiapa berani mengalah, maka pada akhirnya ia akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan.

Falsafah ini begitu melekat dalam masyarakat Jawa, terutama generasi tua mereka. Mungkin karena ia hari-hari didendangkan sebagai tembang mijil di segala tempat; sawah, sungai, hutan-hutan, pendapa, serambi rumah, bahkan ketika mendorong si kecil yang sedang tumbuh dalam ayunan kayu di atas rerumputan hijau samping rumah. Dengarkan bait-bait tembang itu:

Dedalane guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah luhur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
Ana catur mungkur

Kemuliaan diri itu bisa diraih jika memiliki kesalehan yang tinggi, mau mengalah untuk sesuatu yang lebih mulia, bersikap merunduk bagai padi, tidak suka dipuji, dan menjaga diri dari hal yang tidak berguna.

Mengalah bukan berarti kalah atau terkalahkan. Mengalah justru sebuah sikap yang penuh kedewasaan: melihat sesuatu jauh ke depan, melihat sesuatu bukan pada lahiriahnya saja. Mengalah adalah sikap seorang yang telah matang dalam mengarungi samudera kesulitan, kenyang akan asam-garam dan pahit-getir kehidupan. Ia seorang yang futuristik. Mengalah boleh jadi memang mundur selangkah, tetapi setelah itu maju menghentak dan melesat jauh ke depan.

( NapakTilas, Sebuah renungan, 25 Juni 2012 )

Kamis, 21 Juni 2012

Keinginan dalam Kehidupan ...

KEINGINAN DALAM KEHIDUPAN ...

Setiap orang punya keinginan dalam kehidupannya. 
Keinginan seorang manusia tidak akan ada habisnya dan cenderung tidak pernah puas, dan kadang berubah-ubah.
Masing-masing orang punya keinginan yang berbeda-beda.
Semua adalah warna-warni dalam kehidupan ini ...

“ Yang kurus pengen gemuk.
Yang gemuk maunya bisa kurus “

“ Yang berambut hitam mengagumi yang pirang
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam “

“ Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai mencari ketenangan"

" Diam di rumah merindukan bepergian.
Setelah bepergian merindukan rumah "

" Waktu lulus SMA pengen kuliah.
Setelah kuliah malas datang kuliah "

" Saat masih jomblo, pengen punya suami ganteng/istri cantik.
Begitu sudah dapat suami ganteng/istri cantik, pengen yang biasa2 saja, bikin cemburu aja/ takut selingkuh.. "

"Belum punya anak pingin punya banyak anak
Punya anak kerepotan dan mendamba gak punya anak "

" Ketika jomblo pingin cepet menikah punya pasangan
Ketika menikah merasa gak bahagia, pingin sendiri saja "

Dan masih banyak lagi ...

KESIMPULANNYA :

Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki.
Namun setelah dimiliki tak indah lagi.

Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah ada ?

“Syukurilah apa yang ada, igatlah banyak orang yang tidak berpunya ... !! "

( Warna-Warni Kehidupan, 21 Juni 2012 )

Persahabatan dalam Kehidupan ...

PERSAHABATAN DALAM KEHIDUPAN ...

Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. 
Siapa yang berada di samping anda? 
Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai? Siapa yang setia bersama anda pada saat anda mengalami kesedihan ?
Siapa yang bersedia menampung keluh kesah, menyemangati dan memotivasi saat anda terpuruk dalam kehidupan ?
Siapa yang bersedia meluangkan waktu, memperhatikan dan mengingatkan ?
Siapa yang diam-diam berdoa demi kebahagiaan anda ?
Selain pasangan atau keluarga, merekalah sahabat-sahabat anda.

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi yang ditempa agar menjadi sesustu yang indah. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
Jika anda telah mempunyai sahabat, hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda.
Sahabat dalam kehidupan adalah permata ... !

( 20 Juni 2012 )

Kamis, 14 Juni 2012

Pesan Kehidupan ...

PESAN KEHIDUPAN ...

1.Dalam kehidupan ada “TANTANGAN” supaya kita tahu bahwa kita punya “kekuatan”
2. Dalam kehidupan butuh bekerja “KERAS & CERDAS” supaya kita tahu arti “perjuangan”
3.Dalam kehidupan butuh “AIR MATA” supaya kita tahu arti “berkorban dan ikhlas merendahkan hati”
4.Dalam kehidupan butuh “DICELA” supaya kita tahu bgm cara “menghargai”
5.Dalam kehidupan butuh “TERTAWA” supaya kita tahu arti “bahagia”
6.Dalam kehidupan butuh “Senyum” supaya kita tahu kita punya “Cinta”
7.Dalam kehidupan pasti butuh orang "keluarga, teman dan sahabat" supaya kita tahu kita tidak “sendiri” dan ada yang menemani dan menggenggam kita dalam menjalani terpaan badai kehidupan
8.Dalam kehidupan pasti butuh ”COBAAN" supaya kita tahu arti memaknai dan mensukuri kehidupan ...

Maka, jalani dan berjuanglah demi kehidupan yang lebih baik !

( 14 Juni 2012 )