Sabtu, 07 Februari 2026

Hari Ini Tanggal Kelahiranmu

Rencana-Nya adalah yang paling indah

Optimis akan rahmat-Nya

Segala asa harap cita semoga tersegera

Jauh dekat masa mengulur sabar di dada

Ingin hati beraneka tak terhingga

Doa-doa tergenggam panjang dan bergema

Alur hidup terjejak pada suratan-Nya


Apa kabar raga

Met malam jiwa

Bahtera kehidupan melaju senantiasa

Akankah diri tetap tegak kuat sorot masa

Wajah raut kerut mulai menua

Asa berserak bergumpal berjejal 

Nur terkadang terdesak tersedak

Ingatkan diri datang pergi tak bawa apa-apa ...


(Melangit doa, 29 Januari 2026) 

Kamis, 29 Januari 2026

Kenangan Suatu Pagi di Depan Stasiun Malang Kota

Pagi itu gerimis 

Saat kereta Malabar memasuki

stasiun kota baru 

Sudah lama berlalu

aku baru menginjakkan kaki di sini


Kau muncul di pintu keluar penumpang

Mengajakku berjalan, hayu kita makan

Sayangnya tempat makan di ujung selatan stasiun

masih belum buka


Kita pun naik angkot

Menuju tempat berkumpul kawan-kawan

Kuingat kau menegur anak SD yang dengan tenangnya

Membakar kertas ...


Langit terus gerimis

Lalu kita berbincang berempat

dan mencicipi lumpia

Sore pun beranjak

dan kita saling mengucap salam


Pernah pada suatu malam aku bermimpi

Kita menghirup udara segar


Aku ingat Juli 2011

Kita tlah memulai

memposting karya-karya 

puisi kita

perjalanan waktu yang panjang

jejak karya menemani berbagai peristiwa

dari kota dingin hingga merambah pulau seberang

masa demi masa

jejak demi jejak


Pada akhirnya Dinding Kita 

blog yang kita rawat dan jaga

tempat bercengkrama karya-karya kita

terus menemani perjalanan asa


Aku masih tetap memajang gambar kupu-kupu

dengan sayap indah keperakan

menghisap bunga aneka warna


Hingga pada akhirnya

rentang masa tanpa bicara

tlah menjauhkan kita

menjadikan sebentuk prasangka

dan Dinding Kita benar-benar mendindingi kita

menghapus mimpi dan kenangan kita


(Kota dingin, in memoriam 10 September 2025)

Jumat, 04 Juli 2025

JANGAN MENANGIS LAGI ...

Sudah berpuluh purnama perahumu berjalan

Sudah berpuluh badai kau temui

Sudah berpuluh angin kencang menerjang

Sudah berpuluh rasa sakit mengapit

Lelahmu

Sedihmu

Air matamu


Takdir tak selalu setiap masa bertemu purnama

setiap waktu berjumpa cahya

Kadang ada luka

Ada ombak meruak


Dan langkah harus terus ke depan

walau duka menerpa

Janganlah menangis lagi

Sudah cukup air mata membanjir

Diantara lapang dada dan ikhlas jiwa

Kuatkan hati

Yakin Dia tak 'kan menzalimi ...


(Kota kecil, 4 Juli 2025)


Sabtu, 28 Juni 2025

DI PUSARAMU

Di pusaramu aku bersimpuh

Wangi melati menyeruak membelah kenangan

Kuusap namamu yang terukir di batu nisan 

Seperti usapanmu di kepalaku saat kecil

dan suara baritonmu


Terakhir kali aku kesini

Berdua bersama ibu terkasih

Rumput membasah

Bunga melati di sisi nisanmu putih mekar

Lamat-lamat ku ingat Ibu mengucap

Ayahmu suka melati 

sambil gurat sepuh tangannya

memegang nisan dan berdoa lirih


Lalu kita berjalan

diantara tanah makam yang becek

pohon beringin tua dingin menyapa

dalam hati aku sempat berucap

kapan lagi aku dapat berkunjung

jarak Jabar-Jatim tidaklah dekat

dan waktu teramat singkat


(Kota dingin, Mei  2021)





Minggu, 15 Juni 2025

Mengapa

Kehadiranmu adalah anugerah

Saat ufuk binarkan cahaya

Berbalur doa di ujung penantian

Karunia Sang Maha segalanya


Waktu bergulir hadir

berbagai cerita datang dan berakhir

banggaku juangmu doa tulusku

diantara rinai dan terik

kilau dan perih


Mengapa kini permata berserak

tak tahukah lengan ini mengoyak

menghasung mimpimu menegak terjarak

tangis keringat melesak


Mengapa kita tak kembali

pada masa segala tak berpunya

tapi jiwa bermakna tak lekang masa

berjalan beriringan membelah hujan

berpeluk kuat kala kemarau menyengat

sudah terlalu lama sehingga kita

tak mampu lagi merekat asa


(Renungan, kota sunyi, 15 Juni 2025)


 

TAKDIRMU, TAKDIRKU, TAKDIR KITA

Mari kita terus melangkah

Tinggalkan masa lalu yang lelah

Tiga puluh masa bukanlah waktu yang sebentar

Walau angan kita belum kunjung berbinar


Sehelai daun pun sudah ditakdirkan jatuh

Betapa pun ikatan ini adalah ketetapan-Nya

Tak akan ada tanpa kehendak-Nya

 

Lihatlah rambut-rambut perak kita

Tengoklah kerut menghias wajah kita

Sudah bukan lagi kita raja

Berkehendak ini itu penuh sabda


Saatnya kita bercengkrama

Mulai menata

Mumpung matahari masih bersua

Tentang hidup kita yang tak lagi lama

Berjalin genggam yang kini kecoklatan

Saling tersenyum tanpa ada tangis

Esok masih milih kita

Walau kita akan tertatih


Masih ingatkah tanganmu menari

diantara bilah bonang barung bonang penerus

Atau liuk badanmu melesatkan tripple poin

di ring basket malam-malam

lalu kita makan bakso yang dingin

bulan cerah menyapa 

diantara keringat dan tawa


Atau saat kita berdesakan

naik bis kota ke Tunjungan

makan nasi sebungkus berdua dengan riang

tanpa risau esok apakah masih bisa

saku kering sedikit rupiah tersisa


Yakinlah kita

yang terbaik tlah digariskan

walau tentu penuh lika liku luka

mari kita berjalin tangan

takdirmu, takdirku, takdir kita ..


(Kenangan di kota Pahlawan, Oktober 1994)


Sabtu, 24 Mei 2025

HARUSKAH KU TETAP DI SINI

Haruskah ku tetap di sini

memeluk yang terpuruk

membelai yang terkulai

menopang yang tertimpang


Berulang ku teriakkan

pondasi ini tak lama lagi rubuh

perlahan jatuh

tergelincir terbentur


Masa lalu gemilang

tak lama lagi tinggal cerita

tanpa sadarnya kau masih terus jumawa

tertawa bangga diantara lorong hampa


Bangun dan bangkitlah

buka mata dan melangkahlah

sayang hatimu pekat kabut

halangi nur jernih menjemput


( Suatu pagi gerimis, Kota kecil, 24 Mei 2025)





Kamis, 19 Desember 2024

Tak Seperti Mentari

Tak seperti mentari
Yang senantiasa berseri
Memancarkan cahaya pagi
Kepada segenap penghuni bumi
Dan aku sungguh tak bisa
Tersenyum manis diantara duka
Di setiap hari senantiasa
Walau embun berusaha menyapa

Terkadang hati terperangah
Akan hilangnya sapa renyah
Tempat berpegang pandu arah
Hingga toreh jiwa jadi resah

Oh tiga puluh masa ternyata
Belum mampu jalinkan makna
Dan aku terus menapakkan renjana
Pada dinding sepi menggurat asa

(Suatu pagi, 19 Des 2024)

Minggu, 20 Oktober 2024

Kaukah itu?

Empati, simpati
Hanya dapat dimiliki 
Jiwa yang tak mati

Kaukah itu
Yang tiga puluh masa aku setia
Serahkan hati tanpa jeda
Diantara doa-doa
Dan jiwa yang tak pernah putus asa
Akan baik jiwa berpasang baik juga

Ataukah takdir Asiyah mesti berulang
Menjalani hari hitam panjang
Kesabaran dan keegoan
Bersama dalam takdir penentu iman

Kaukah itu
Yang di mimbar fasih melantunkan
ajakan penuh kemanisan
Dan jauh di baliknya menghasung kepedihan
Perih pedih akankah berkesudahan 

Lamgkah-langkah lunglai ini
merapuh melemah
berderai 
berurai 
Waktu tlah berjalan terus berjalan
Jiwa ini bilur tertikam

(Kota kecil, 20 Oktober 2024)

Selasa, 15 Oktober 2024

Bapakku, Diammu

Bapak, aku kangen, Pak
Hari-hari yang kita tapak
sungguh penuh gurat
dan pandang teduh mengikat

Aku rindu masa-masa itu
Dan tawa bersama biru
Kelakar tentang masa lalu
Bentang yang tak pernah berdebu

Maafkan aku, Pak
Egoku dan prasangkaku
Tak jarang membuka jarak 
Panjang waktu melaju
Mendesak jauh diammu keluku

(Okt 2024, bulan kepergianmu ...)

Minggu, 01 September 2024

Usia Kita Menuju Senja

Dulu langkahmu baja
Ragamu anoraga
Kiprahmu menggema

Kini berlalu masa
Semua berubah tak terasa
Tak bisa dipungkiri datang senja 
Keriput, uban, dan cepat lupa

Sebentar lagi masa paripurna
Rehat raga tentram jiwa
Sadari semua tak seperti dulu kala
Keharibaan-Nya bersimpuh alpa dosa

(Malam Senin, 2 Sept 2024, saat senja mengubah warna ...)

Sabtu, 24 Agustus 2024

Aku selalu mengingatmu pagi itu

Cuaca mendung pagi
Mengantarkan jalan bersama
Wajahmu ceria
Senyum bahagia
Mentari kota Surabaya menyapa

Rektorat ITS menyimpan kenangan
Saat kita berfoto
Di samping jip merah terparkir
Lalu ke ATM dan saldo bertambah

Ke kantin ITS kita menuju
Mencicipi menu favorit
Aku agak mengernyit
Saat kau pesan lagi semangkok bakmi

Lalu kita ke Bilka
Membeli bedak dan minuman rupa-rupa
Kau pamit tiba-tiba
Harus ke kampusmu segera

Waktu pun berjalan
Ternyata saat itu kini tinggal kenangan
Senyummu hanya tinggal bayangan
Kerudung pemberianmu masih tersimpan

In memoriam adikku, Dyah Rochmawati

Senin, 05 Agustus 2024

Bu, aku rindu petuahmu

Jika dapat ku mengulang waktu
Kan ku hela erat saat waktuku bersamamu
Bercerita riuh tentang bahtera yang harus terus kukuh
Sambil tertawa bahwa hidup masih ada warna
Tak lupa celoteh diantara ruam tertoreh
Senyummu senyumku tersimpul mesti kadang kelu
Lalu firasatmu membuatku tepekur
Bahwa takdir bagaimana pun tetap terukur
Keping hati bisa terbentur
Langkah tak rebah mesti terjalur

(Miss u, 050824)

Kamis, 13 Juni 2024

Hujan Deras Itu, Banjir Itu, Peristiwa Itu

Deras hujan mengguyur
Jalanan lengang kelok menyusur
Roda sepeda motor meluncur
Dua tubuh manusia kuyup terbanjur 

Bungkusan belanjaan kita segala rupa
Yang kita pilih sehemat cermat 
dari gaji bulanan kita
terjatuh tak beri aba-aba
tergilas roda mobil mewah tanpa dinyana
suara debur kemasan tertindas hancur
terburai memencar jalan tertabur

Aku tepekur oh rizki dari Sang Maha Berpunya
ternyata belum jadi milik kita
Aku tepekur terngiang suara orang tua
"Dikatakan rizki itu jika sudah masuk ke mulut dan dirasa indera"
dan bahwa "Semua yang ada di dunia ada ajalnya, benda pun ada saat ajalnya ... "

Hujan guntur terus menyembur
Hati gulana coba ikhlas bertempur
Inikah tegur untuk tadabur
Agar hati tak terus tercebur

(Peristiwa saat hujan teramat deras, di suatu kota kecil, 12 Juni 2024, kumandang iqomat Maghrib)

Selasa, 28 Mei 2024

Hidup Kita Serahkan Pada-Nya ...



Ketika manusia diciptakan 
dan ditiupkan roh atasnya
saat di dalam kandungan
digariskanlah oleh-Nya
jodoh, rizki, perjalanan hidup dan saat kematian
sebagai ketentuan kehidupan 
yang menjadi rahasia dan misteri baginya

Dalam pepatah Jawa
" Hidup itu hanyalah sekedar menjalani "
maka nasehat orang tua
" Berusahalah berbuat yang terbaik dalam menjalani
setiap waktu dalam kehidupan
dan biarlah hasil akhir kita serahkan pada-Nya "

( Urip mung sadermo nglakoni, 20 Agustus 2012 )

Senin, 22 April 2024

MARI MENULIS SETIAP HARI DAN MEMBUKTIKAN APA YANG TERJADI


Bismillahirrohmanirrohim.

Assalamualaikum warohmatullahi wa barakatuh.

Malam ini adalah pertemuan perdana Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI. Malam yang indah. Malam yang cerah. Moderator pertemuan ini adalah bapak Muliadi, seorang kepala SMK yang berasal dari Toli-Toli Sulawesi Tengah. Pemateri adalah Dr. Wijaya Kusumah atau yang lebih akrab dipanggil Omjay, mengambil judul "Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi".

Dr. Wijaya Kusumah atau Omjay adalah pendiri KBMN yang sekarang sudah memasuki Angkatan ke-31. Beliau adalah seorang teacher, trainer, writer, motivator, blogger, praktisi ICT,  dll. Sering diundang di berbagai seminar, simposium, dan workshop sebagai pembicara/narasumber di tingkat Nasional, telah berkeliling hampir penjuru nusantara, karena menulis, banyak mendapat penghargaan sehingga diundang ke istana dari orang nomor satu di Indonesia. Beliau seorang Doktor, iya lulusan S3, mendapatkan gelar doktor pendidikan tahun 2022 dengan judul desertasi "Pengelolaan Blog Kolaboratif untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Siswa" 

Beliau memulai semua keberhasilan dengan komitmen tinggi diawali dari blog pribadi yang dengan musibah kebakaran sekolah menjadikan "Yuk Kita Ngeblog'' mendapatkan juara pertama dari Depdikbud dengan hadiah 20 juta !!

Petuah dari Omjay adalah 
1. Menulislah setiap hari karena menulis itu adalah sebuah kebutuhan, menulis itu pekerjaan yang sangat menyenangkan
2. Mulai menulis dari 3 alinea yaitu alinea pembukaan, alinea isi tulisan, dan alinea penutupan, lalu digabungkan
3. Menulis dan membaca merupakan kebutuhan yang sama halnya dengan makan dan minum, bila tak membaca terasa haus dan bila tak menulis terasa lapar
4. Menulis setiap hari merupakan sedekah lewat tulisan setiap hari
5. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi
6. Menulis itu sangat mudah bahkan lebih mudah dari membuat ceplok telor
7. Perlu banyak latihan menulis setiap hari, bisa lewat blog
8. Membuat blog sangat mudah, yang susah adalah harus mengisi blog dengan tulisan setiap hari
9. Untuk bisa menulis setiap hari, maka harus menjaga konsistensi dan berusaha komitmen dalam diri untuk berjanji menulis setiap hari. Minimal menulis dan membaca tulisan orang lain lalu meninggalkan jejak dengan cara menuliskan komentar. Itulah mengapa blog walking atau saling berkunjung ke blog orang lain sangat diperlukan bila ingin blog ramai pembacanya.
10. Isi tulisan bisa kita kembangkan dengan rumus menulis reportase yaitu 5W plus 1H
What   = apa
Who    = siapa
When  = kapan
Where = dimana
Why    = mengapa
How    = bagaimana
Hal ini menjadikan menulis tidak akan kehilangan ide
11. Kerangka tulisan sederhana saja yaitu 
Judul 
Pembukaan
Isi tulisan
Apa
Siapa
Kapan
Dimana
Mengapa
Bagaimana 
Penutup 

Omjay juga mencontohkan tulisan beliau di Kompasiana yang sudah dibaca lebih dari 120 ribu orang dan mendapat imbalan gopay dengan judul ,"Jangan Mau Ikut Program Pendidikan Guru Penggerak".

Hal yang menarik dari pertemuan ini adalah Omjay membuat tantangan kepada para peserta KBMN untuk menulis tentang kucing berdasarkan foto kucing yang dishare dan bagi 3 penulis tercepat akan diberikan gopay.

Sesi berikutnya adalah tanya jawab 
P1. Harsen dari Brebes, Jawa Tengah : Berapa minimal jumlah kata pada setiap resumenya ? 
J1. Bebas, tetapi sebaiknya minimal 500 kata agar terbiasa sedikit demi sedikit terbiasa menulis untuk menjadi buku

P2. Prasetyaningsih dari Jakarta : Beberapa waktu belakangan saya lebih fokus menulis fiksi, yang tentunya dari segi bahasa lebih luwes tidak harus baku. Dalam penulisan artikel/opini, apakah masih memungkinkan ada kata tidak baku dalam tulisan itu? Atau ada gaya bahasa seperti apa yang  bisa menarik banyak pembaca?
J2. Bebas yang penting menarik pembaca. Penulis fiksi harus memperkaya diri dengan membaca dan belajar pada pakarnya yang nanti ada diantara 30 materi KBMN

P3. Agung Pramono dari Tangerang Selatan : Dalam menulis setiap hari, pasti ada rasa malas atau ada kegiatan yang membuat menulis terganggu. Bagaimana cara mengatasi hal tersebut?
J3. Harus menjadikan menulis sebagai sebuah kebutuhan sehingga rasa malas itu akan hilang. Sebab akan terasa lapar bila tak menulis dan akan terasa haus bila tak membaca. Harus mampu mengalahkan diri sendiri. Awalnya mungkin pemaksaan lama-lama jadi kebiasaan

P4.  Naili dari Tegal : Bagaimana cara kita agar bisa mudah menemukan ide atau tema yang akan kita tulis agar membuat pembaca tertarik untuk membaca tulisan kita.
J4. Ide menulis banyak terdapat di sekitar kita, kita gunakan panca indera untuk memperolehnya, bisa juga dengan melihat foto atau video

Pertemuan ditutup dengan pesan, 
-Kegiatan menulis setiap hari adalah kegiatan yang dapat dilakukan oleh semua orang asalkan kita rajin membaca setiap hari.  
- Orang bisa menulis karena dia rajin membaca tulisan orang lain. 
- Jangan berharap menjadi seorang penulis kalau kita belum bisa menjadi pembaca yang baik
- Menulis dan membaca adalah dua buah kegiatan yang tidak bisa dipisahkan seperti pasangan kekasih Romeo dan Juliet
- Kegiatan menulis setiap hari akan bisa terjadi bila anda sudah merasakan bahwa menulis dan membaca adalah sebuah kebutuhan penting sama halnya kita makan dan minum
- Menulis setiap hari bagaikan membuka pintu gerbang menuju berbagai peluang. Ini adalah kebiasaan yang dapat mengantarkan kita pada kesuksesan, baik dalam hal menulis itu sendiri maupun dalam berbagai aspek kehidupan lainnya.

Demikian resume pertemuan pertama ini. Semoga bermanfaat.
Malam kian larut, semangat tak surut.

(Rosjida Ambawani, kota kecil di Jawa Barat, 22.04.24)








 
 

Jumat, 22 Desember 2023

IBU ...

Serasa terngiang-ngiang
Canda terakhir kita ...
Senandung kita bersama ...
"Waktu aku sakit ibu yang jaga ...
Tiap kali ku bangun lalu ditanya 
Ingin apakah, Nak
Ingin minumkah
Makan sedikit ya Nak
Hilangkan lemah ... "
Lalu kita jalan kaki berdua 
Ke makam ayah
Ke makam nenek kakek
Saat itu tidak ada beca
Dan aku menyarankan kita jalan kaki saja
Sore yang cerah
Dan aku mampir beli teh botol ...

Ibu nampak khusyu' berdoa
Di samping makam ayah
Lalu bercerita, 
Ini pohon melati sengaja ditanam di sini
Ayahmu suka harum bunga melati

Sehabis sholat
Tak biasanya Ibu minta kita foto bersama
Dan saat ku pamit pulang
Tak biasanya tangan Ibu terkulai

Banyak episode kita lalui bersama
Tidak selalu kita segenggam seirama
Ku ingat suatu malam
Ibu tunjukkan buku coretan tentang kisah
almarhum adik laki-laki dan perempuanku
Aku berkata bahwa buku memori itu ada baiknya ada kekurangannya
Saat kita baca-baca kembali
Jika pernah ada cerita duka maka menambah luka ...

Maafkan aku, Ibu
Yang belum bisa membahagiakanmu
Doaku selalu untukmu
Diantara bayangan senyum dan suaramu ...

(22.12.23)

Jumat, 10 November 2023

MAAFKAN AKU PALESTINA


Mesiu mortir menderu jatuh
Air mata bayi anak remaja luruh
Atmosfir kelabu bangunan runtuh
Fajar wartakan syahid tangguh
Kemanakah hati manusiawi acuh
Asasi manusia jauh rubuh
Nyawa nyata tak bernilai sungguh

Aku di sini tertatih rapuh
Kelu doa lirih bersimpuh
Ufuk memeluk senyum syuhada teduh

Palestina maafkan jiwa ini yang lusuh
Angan penuh di balik raga lumpuh
Lambai terkulai tungkai luruh
Empati doa untuk hakiki juang seluruh
Sementara kau Palestina sungguh teguh
Tak gentar ribuan hunjam tetap kukuh
Iman tertancap kuat tak mudah luluh
Neraca ukhrowi luhur meneduh
Abadi syurga bersemayam harum utuh ..

(Kota kecil, 10 Nov 2023, Puisi Akrostik)

Kamis, 02 November 2023

MASA KECIL KITA


Memori lekat terpahat
Ada hitam, merah tersemat
Senandung kecil berkelebat
Akan kisah kita dekat erat

Kemana sinar pagi bergegas lewat
Elegi ini sunyi membebat
Ceria menggurat tak lagi bersahabat
Impian menjerat memekat
Lelah langkah merapat memanjat

Kaukah itu yang dulu penyemangat
Indah mimpi genggam rekat
Tak dinyana sengat menyayat
Aku terpaku sedu melumat

(Kota sunyi, akhir Oktober 2023, Puisi Akrostik)


Jumat, 21 Juli 2023

Sendiri Mengeja Keluh


Ketika perjalanan kehidupan
Tempuh jalan belukar
Dingin pekat gelap
Tanpa siapa-siapa

Kau ada di sana
Tak mendekat tak menyapa
Apalagi merengkuh menggenggam
Duduk bersama mengurai rencana
Atau tersenyum tertawa di sela cerita

Bahwa langkah kita tlah jauh
Lintasi jeram penuh berpeluh
Lewati malam hujan deras berguruh
Telapak kaki tercabik panas melepuh
Dan aku sering sendiri mengeja keluh

(Kota kecil, 21 Juli 2023)