Pagi itu gerimis
Saat kereta Malabar memasuki
stasiun kota baru
Sudah lama berlalu
aku baru menginjakkan kaki di sini
Kau muncul di pintu keluar penumpang
Mengajakku berjalan, hayu kita makan
Sayangnya tempat makan di ujung selatan stasiun
masih belum buka
Kita pun naik angkot
Menuju tempat berkumpul kawan-kawan
Kuingat kau menegur anak SD yang dengan tenangnya
Membakar kertas ...
Langit terus gerimis
Lalu kita berbincang berempat
dan mencicipi lumpia
Sore pun beranjak
dan kita saling mengucap salam
Pernah pada suatu malam aku bermimpi
Kita menghirup udara segar
Aku ingat Juli 2011
Kita tlah memulai
memposting karya-karya
puisi kita
perjalanan waktu yang panjang
jejak karya menemani berbagai peristiwa
dari kota dingin hingga merambah pulau seberang
masa demi masa
jejak demi jejak
Pada akhirnya Dinding Kita
blog yang kita rawat dan jaga
tempat bercengkrama karya-karya kita
terus menemani perjalanan asa
Aku masih tetap memajang gambar kupu-kupu
dengan sayap indah keperakan
menghisap bunga aneka warna
Hingga pada akhirnya
rentang masa tanpa bicara
tlah menjauhkan kita
menjadikan sebentuk prasangka
dan Dinding Kita benar-benar mendindingi kita
menghapus mimpi dan kenangan kita
(Kota dingin, in memoriam 10 September 2025)